Senin, 26 April 2010

Itu Pasti Sakit


hari ini adalah saat dimana kita anak-anak kelas 3 sma menerima hal yang paling menakutkan. hari ini kita sama-sama menerima hasil ujian negara. sebuah pembatas dimana kemampuan dan usaha kita selama tiga tahun hanya bergantung pada sebuah kertas jawaban, pensil 2b dan waktu 2 jam. tidak adil memang, tapi kita harus tetap menerimanya.

amplop itu dibuka dan ya, hanya ada dua jawaban dalamnya dan apa yang terjadi setelah membacanya selalu sama, tangisan dan ait mata. bedanya tangis gembira atau sedih. baik, kita abaikan mereka yang menangis gembira, sebab dalam tangisnya mereka akan bersyukur dan berkata ya, aku layak menerima ini. aku telah berusaha dan inilah hasil semuanya itu.

lantas, bagaimana dengan mereka yang harus menerima kenyataan bahwa mereka gagal? mereka menempuh usaha dan meluangkan waktu yang sama. mereka menjalaninya dengan air mata dan cucuran keringat. hasilnya "anda TIDAK LULUS" apa itu adil bagi mereka? apa itu pantas buat mereka?

ketika kita berhasil kita akan berkata "sudahlah, ini bukan akhir segalanya." kita bisa berkata begitu karena kita memang berhasil. mudah bagi kita, tapi apakah demikian bagi mereka? tidak. jawabannya selalu tidak dan nyatanya sakit memang. kenyataan itu memang perih dan membekas bahkan lebih dalam dari luka fisik.

ketika kau tahu kenyataan itu pahit dan kau ingin menangis, menangislah. ketika kau ingin teriak dunia ini tak adil, teriaklah. ketika kau ingin mencaci semua orang, lakukan itu. tapi ingat, kau tetap harus bangkit. menangis, marah, mencaci, semua tak berguna dan tidak akan pernah berguna. kau harus tetap bangun dari mimpi burukmu dan hadapi hari.

itu pasti sakit, tapi bukan berarti kau tak dapat menyembuhkannya. bukan berarti itu menguasaimu. katakan pada dunia dan dirimu sendiri, kali ini kau jatuh. kali ini kau menangis dan kali ini kau kecewa, tapi kau akan bangkit, melawan keterpurukan dan kau akan berhasil. ketahuilah, kabar baiknya Tuhan mempersiapkan engkau dengan kemampuan melampaui batasan.

ketika kali ini kenyataan membatasi engkau, maka biarlah itu terjadi. namun bukan berarti kau harus terus jaruh, ada titik dimana kau harus bangun. jangan dengarkan mereka yang menyemangatimu, karena semua akan percuma ketika hatimu terluka. itu hanya akan menambah luka dihatimu. tapi bertekadlah untuk bangkit dengan kekuatanmu, maka kau akan sadar, mereka yang menyemangatimu adalah mereka yang sayang padamu

Senin, 19 April 2010

Ayah dan Motor Kesayangannya

seorang ayah memiliki barang yang amat dia sayangi. sebuah sepeda motor sport yang belum lama ini yang ia beli dengan hasil kerja kerasnya. ia sangat menjaga motor ini. tiap hari ia bersihkan motor ini dan ia jaga agar tidak ada goresan sedikitpun pada badan motor. ia mencintai motor itu lebih dari apapun sebab ada sesuatu yang akan ia lakukanterhadap motor itu.

sang anak, yang merasa sudah dewasa hari demi hari merengek pada ayahnya agar diijinkan mengendarai motor itu untuk sekali saja. tentu saja sang ayah yang sangat mencintai motornya tidak mengijinkannya. sampai suatu sore, sang anak memohon dengan sangat untuk diijinkan mengendarai motor tersebut sebab ia akan pergi bersama teman-temannya.

pada saat itu perasaan sang ayah berperang. di satu sisi ia tak mau motornya rusak, karena ia tahu anaknya bukanlah tipe anak yang terlalu berhati-hati, tapi di sisi lainnya ia tidak mau anaknya merasa malu karena anak seusianya seharusnya sudah mengendarai motor pribadi.

akhirnya, dengan sangat berat hati, sang ayah menyerahkan kunci dan surat-surat motor. sebuah pesan agar berhati-hati ia selipkan sambil menyerahkannya. ia tagu betapa anaknya bahagia, tapi ia juga khawatir jika motor kesayangannya lecet.

dua.. tiga... empat jam berlalu, namun sang anak belum kembali hingga telepon rumah berdering. sang ayah mengangkatnya dan suara yang ia dengar adalah permohonan maaf dari sang anak sambil menahan air matanya. ia tergelincir dan motor itu bukan hanya lecet, namun rusak ringan. sang ayah menarik nafas panjang dan berkata, "kamu bagaimana, nak?" sang anak bersikeras berkata aku ga apa-apa pah, tapi motor papa.. sang ayah berkata, "yang terpenting kamu ga apa-apa"

sesudah kejadian itu, sang anak merasa amat menyesal dan tidak pernah berani lagi meminjam motor ayahnya. hingga suatu sore, sang ayah memanggilnya dan berkata, "nak, sekarang ini waktu yang tepat. sekarang motor ini jadi milikmu. tapi jangan jatuh lagi. hehehehe..."
sang ayah ingin menghadiahkan motor itu pada anaknya, namun ia ingin memberikannya saat anaknya benar-benar siap. ia ingin sang anak sabar menanti, itulah mengapa ia tidak rela motor itu lecet atau cacat sebab ia ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya

ya, benar... begitupula Tuhan. karir, cinta, harta, masa depan kita adalah "motor" milik Tuhan yang selalu Ia rawat. Ia terus menjaganya sampai dengan sombongnya kita merasa kita bisa menjalankannya sendiri dan akhirnya memintanya agar kita bisa berkuasa penuh atas itu. ketika kita berjalan sendirian dan kita sadar kita jatuh dalam dosa, kita hanya bisa menangis dan memohon ampun atas itu. apakah Ia bisa marah? apakah Ia bisa berkata itulah mengapa Aku tidak menijinkanmu.. Dia bisa, namun Ia tidak melakukannya. Ia menghela nafas panjang dan memperbaiki semuanya. tidak sampai disana, Ia mengampuni kita bahkan sampai ke akar dosa kita. Ia ingin kita taat dan setia sampai pada akhirnya Ia memberikan pada kita apa yang seharusnya kita dapat.

Ia tahu ketika anda dan saya berjalan sendirian tanpa Dia, kita mungkin terjatuh. mungkin anda bertanya, lantas mengapa Ia membiarkannya? mungkin kita harus merenungkan kembali, berapa kali suara dalam hati kita berkata ikutlah Dia? mungkin kita harus mengecek lagi berapa kali kita berotak? Ia biarkan kita berjalan sendirian bukan untuk membiarkan kita jatuh, tapi agar kita dapat memilih hidup macam apa yang ingin kita jalani, Bapa menciptakan kita selayaknya manusia, bukan robot. Ia ingin kita belajar betapa Ia siap akan segala konsekuensi dan tetap setia menjaga kita. Ia ingin kita sadar betapa berharganya apa yang kita minta, namun tidak ada yang lebih berharga daripada diri kita sendiri.

ya, Tuhan cinta saya, anda dan kita semua. ada "motor" yang disimpan Tuhan bagi kita sampai kita benar-benar siap, namun nyatanya kita merengek untuk mendapatkannya sebelum waktunya dan merusak semua rencana-Nya. jadi, apakah anda masih berpikir Ia adalah Tuhan yang jahat? Ia sangat baik, bahkan Ia memperhitungkan semuanya. sobat, ada saat dimana kita menaruh harapan, tapi bukan memaksakan kehendak. lakukan apa yang jadi bagianmu dan Dia akan menyelesaikan apa yang jadi bagian-Nya.
Tuhan memberkati...

Minggu, 18 April 2010

Hingga Titik Jenuh

hari ini sebagian dari kita mungkin sedang "enjoy" dengan apa yang sedang kita lakukan. hobby, sekolah, pekerjaan, bahkan hubungan kita, seakan hidup kita lengkap dan kita tak butuh apa-apa. tapi pernahkah kita mencoba melihat jauh ke depan dimana disana ada kemungkinan bagi kita mengalami titik jenuh dan kebosanan.

"yah, yang terpenting sekarang kita jalani dulu. masalah nanti biar diurus nanti." jawaban yang bagi saya sangat tidak bijak. menurut saya banyak hal yang harus kita antisipasi sejak sebelum hal itu terjadi. tentu saja berserah itu penting, namun usaha yang kita lakukan juga tidak kalah penting.

banyak orang yang gagal menghadapi masa depannya karena mereka tidak pernah sadar akan adanya masa-masa jenuh atau mereka sebenarnya mengerti namun tidak mau tahu akan itu. ini akan mempengaruhi banyak hal jika kita tidak mengantisipasinya terlebih dahulu.

sebagai contoh, bayangkan ketika saat ini anda kuliah dan semester depan titik jenuh itu muncul, anda akan melarikan diri pada hal yang membuat anda "lebih enjoy" dan akhirnya kuliah terbengkalai. atau ketika saat ini anda sedang asyik-asyiknya menjalin hubungan dengan kekasihnya dan anda sengaja menutup mata akan titik jenuh, ketika masa itu datang akan ada kemungkinan anda putus dengan kekasih anda dengan alasan tidak cocok, padahal mungkin bukan tidak cocok, hanya saja anda sedang jenuh, dan ketika anda sadar dari kejanuhan, selamat... kekasih anda telah hilang.

lantas apa yang harus dilakukan untuk menghindar dari masa jenuh?

bersiaplah...
semua tidak akan mungkin jika anda tidak mempersiapkan diri anda. jika anda tidak mau melakukannya jika anda tidak aware dengan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. jadi langkah pertama persiapkan diri anda, sadari masa itu "pasti" datang.

berencanalah...
ya, buatlah perencanaan yang jelas menganai apa yang akan anda kerjakan. usahakan apa yang anda rancang untuk anda kerjakan bukan hal yang monoton, sehingga mengurangi efek kejenuhan.

beralihlah...
benar jika dalam 7 hari anda hanya berkutat pada kuliah atau pekerjaan atau mungkin kekasih anda, mengapa anda tidak mencoba meluangkan sedikit waktu saja. alaihkan perhatian anda dari semua yang anda kerjakan sekarang. ini bukan berarti anda lari dari tanggung jawab, melainkan menyegarkan diri untuk berkutat kembali dengan itu.

berefleksilah...
ya, renungkan kembali apa yang telah anda lakukan sebelum menemui masa jenuh. cek poin yang telah anda kumpulkan dan periksa apa-apa saja yang kurang. siapa tahu anda akan menemukan kenapa anda merasa jenuh atau anda menemukan kembali alasan untuk semangat.

berserahlah...
akhirnya, semuanya harus dan semestinya kita gantungkan pada yang kuasa. jadi tips terakhir saya, serahkan hidup anda pada Tuhan. segalanya yang kita rancangkan terkadang bukan rencana yang Ia mau. jadi berserahlah, sebab tanpa Dia semuanya sia-sia.

ya, titik jenuh pasti ada, namun kita manusia diberi kemampuan untuk menghindarinya atau minimal memanipulasinya. pertanyaannya sekarang maukah kita melakukannya atau membiarkan hidup kita dipegaruhi rutinitas sehingga kejanuhan menjerat kita satu saat nanti?? ya hanya anda yang tahu jawabnya.

Jumat, 02 April 2010

kedewasaan iman

masalah ini selalu teringiang di kepala saya. apalagi kalau saya mengingat-ingat tentang kedewasaan iman yang menjadi tolak ukur kedekatan kita dengan Tuhan. yang menjadi dan selau menjadi pertanyaan saya apakah yang dimaksud dewasa secara iman, dan apakah semakin dewasa iman kita menjadi indikasi kedekatan kita dengan Tuhan?

saya mulai dari pengalaman saya. beberapa aliran kekristenan menganggap orang yang dewasa secara iman adalah orang yang mampu menggunakan bahasa roh, mampu "menjala" banyak jiwa, dan selalu memiliki semangat berkobar dalam memuji Tuhan (semoga saya salah). ini membuat mereka yang mampu berbuat begitu dengan mudah menghakimi temannya tidak dewasa secara rohani, namun apakah demikian?

ya, saya mau memberikan pandangan saya tentang dewasa secara rohani. menurut saya kedewasaan iman kita tidak serta merta ditunjukkan dengan berapa banyak jiwa yang kita kristenkan atau seberapa lihai kita dalam penggunaan bahasa roh. lebih dari itu, saya rasa kedewasaan rohani lebih merujuk pada hati yang mau melayani dan merendah. pada perbuatan real.

saya mau mengkritisi penggunaan bahasa roh dan ibadah yang berkobar-kobar. saya percaya akan bahasa roh dan saya setuju akan semangat dalam beribadah, namun lebih jauh saya ingin menanyakan, apakah jika anda berbahasa roh, anda benar-benar yakin itu bahasa roh, atau anda hanya ikut-ikutan orang di depan anda? pada saat anda meloncat, menangis, dan berteriak memuji Allah, apakah karena anda memiliki hati dan kerinduan untuk itu atau hanya sekedar hanya euforia belaka? ya, kita harus melihat lagi jauh ke dalam. itu kenapa saya terkadang bingung melihat orang yang berbahasa roh (maksudnya dia benar bisa atau hanya ikut-ikut).

sekarang mengenai menjaring manusia. ada firman pergilah dan jadikan semua bangsa murid-Ku. ini menjadi patokan kita untuk berlomba-lomba menjala banyak jiwa ikut kekristenan, sampai kita lupa bahwa kristen adalah agama yang mengutamakan pengalaman perjumpaan dengan Allahs sendiri. adalah benar tahun-tahun ini adalah tahun tuaian, tapi jika mereka yang kita tuai belim punya hati dan pengalaman dengan Allah, iman mereka hanya seperti biji yang jatuh bukan di tanah subur. saya rasa yang harus kita lakukan untuk menjala banyak jiwa adalah dengan memberi pengalaman langsung pada mereka. memberi pelayanan menyeluruh. bukan dengan memaksa mereka ke gereja, mereka di baptis dan kita tinggalkan. menurut saya mereka tidak punya dasar yang cukup kenapa mereka harus ikut Yesus.

kembali lagi ke dewasa secara rohani atau dewasa iman. saya berpendapat orang yang dewasa secara rohani adalah mereka yang menjalani perintah Tuhan dengan sebaik-baiknya. perkara mereka "terjatuh", itu bukan masalah, sebab nyatanya daging kita ini lemah. ini bukan berarti saya membenarkan mereka yang kembali berdosa setelah mengaku percaya. yang ingin saya tekankan, jatuh dalam lumpur lagi tidak masalah asal kita mau mencoba bangkit, mandi dan berusaha tidak tergelincir lagi.

masih menurut saya, orang yang dewasa imannya bukan mereka yang "ngoyo" dalam pelayanan. bukan mereka yang merasa harus hidup selalu benar. menurut saya ketika kita "ngoyo" tapi tidak dibarengi dengan hati, saya khawatir motivasi kita salah. ketika kita menanggap semuanya itu dosa dan tidak boleh dilakukan, saya takut kita tidak dapat menikmati hidup (kakak rohani saya bilang Tuhan mau kita menikmati hidup seperti yang telah Ia gariskan). ya, saya pikir Ia tidak menuntut banyak kok. saya melihat orang-orang ekstrim yang menjauh dari hal-hal kedagingan merasa telah mendapat surga. hey, nyatanya ketika Ia mati di kayu salib surga itu menjadi hak kita. menurut saya cukup dengan kita mengusahakan dan berbuat yang terbaik, bukan berlaku apatis dengan semua hal.

ya, yang terpenting dari semua itu adalah hati. coba cek lagi perumpamaan tentang orang samaria yang menolong orang yahudi yang dirampok. saya melihat Tuhan mau bicara banyak. bukan hanya tentang sesamamu manusia, tapi lebih dari itu Tuhan mau menunjukkan bahwa ketaatanmu, pasion, keuletan, atau apapun itu saat beribadah tidak pernah menjamin ketika kau tidak berbuat banyak demi orang lain. Tuhan mau bilang, bahkan seorang kafir melakukan hal yang lebih terpuji.

jadi seberapa dewasa iman kita? masih kita berpatok pada banyaknya jumlah pelayanan, banyaknya jumlah jiwa yang dibawa (lalu ditinggalkan), pada bahasa roh "tingkat tinggi", pada semua itu kah? saya rasa patokan kita adalah seberapa besar hati kita terbuka untuk menerima karya penyelamatan-Nya.