Senin, 29 November 2010

Jadilah Bernilai Bukan Ber-Nilai


Judul yang agak aneh jika diucapkan dengan bahasa Indonesia, namun maksud saya adalah ketika kalimat ini diucapkan dengan bahasa inggris. Kira-kira yang saya maksud adalah be valuable not score-able. Ya jadilah bernilai (valuable) bukan bernilai (score-able). Dalam kata score-able saya member tanda “-“ karena saya mencari di kamus manapun tidak ada kata scoreable. Benar, tidak ada atau lebih tepatnya belum ada kata atau istilah scoreable (siapa tahu setelah ditulis di blog ini jadi ada istilah scoreable), namun kita sering melakukan tindakan itu lebih sering dari yang kita sadari. Melakukan hal yang tidak ada dalam dunia nyata sama dengan sia-sia bukan.

Apa maksud saya melakukannya? Bukan hanya anda, saya-pun melakukannya. Tindakan ber-nilai (score-able) lebih sering kita lakukan daripada bernilai (valuable). Saya menonton kembali film “3 idiots” dan akhirnya saya menemukan pesan yang sangat luar biasa yang ingin disampaikan lewat film itu, jadilah bernilai. Bernilai yang valuable bukan yang score-able.

Mungkin anda bingung dengan maksud saya mengenai value dan score, maka sekarang kita akan coba gali satu per satu. Kedua kata dalam bahasa inggris tersebut memiliki arti yang sama “NILAI”. Perbedaan diantara kata yang merujuk arti nilai ini adalah (inilah kenapa saya suka beberapa kata dalam bahasa inggris, sangat filosofis) dalam penggunaannya.

Pertama score (siap-siaplah tersentil) inilah yang biasa kita (saya dan anda) kejar dalam hidup. Score disini adalah nilai yang nampak. “yah, saya tidak lagi sekolah jadi saya tidak lagi mengejar score.” Pertanyaan saya berapa banyak anda mengejar kekayaan daripada kebahagiaan? Berapa lama anda mengejar popularitas di banding sosialisasi? Lihat? Siapapun kita tetap mengejar score. Saya berada di bangku kuliah sekarang dan yang namanya indeks prestasi, sertifikat, posisi, apapun itu jadi “tujuan utama” beberapa di antara kami dan percaya atau tidak itulah realitas yang ada.

Sementara value adalah nilai yang cenderung tidak nampak, berada di dalam diri tiap manusia dan sifatnya cenderung kekal. Tiap manusia memiliki value dalam dirinya. Value bias berasala dari mana saja pengajaran, informasi, pengalaman, apapun. Ketika kita datang ke kampus, hidup di masyarakat, atau bercengkrama dengan keluarga aka ada nilai yang kita dapat. Nilai (value) di sini bukan seberapa baiknya rankingmu ketika berada di satu jenjang pendidikan, namun lebih ke bagaimana pribadimu setelah menerima suatu pendidikan.

Kembali ke paragraf pertama. Ya, saya sarankan anda menonton film “3 idiots” (jarang-jarang saya menyarankan nonton film india). Karena percaya atau tidak saat ini kita terkungkum dalam persaingan mencari nilai (score) bukan untuk mendapat nilai (value). Inilah kenapa lulusan S1 kita cerdas secara akademik namun tidak peka terhadap realita di lapangan. Kita sudah terdoktrin untuk kuliah 4 tahun, IP minimal 3,5; cum-laude, mendapat pekerjaan yang luar biasa, mengumpulkan uang. Bukan berarti itu impian yang buruk, namun kita tetap bias memiliki nilai (score) tanpa melupakan unsure nilai (value). Pertanyaannya maukah kita melakukannya?

Seorang teman pernah mengatakan hasil akhir tidak penting, namun bagaimana prosesnya. Kalimat ini (makasih mas komenk) sebenarnya mau mengatakan hal yang sama percuma kamu mengejar score (10 tahun lagi, ilmu yang anda punya udah kadaluarsa), kejarlah value. Kenapa? Value yang anda miliki membuat anda menjadi berkarakter. Mungkin score yang anda miliki tidak terlalu tinggi, tidak apa-apa karena justru dengan value-lah anda diterima bekerja (lihat film itu dan perhatikan scene kedua teman tokoh utama mendapat pekerjaan).

Ini bukan salah pemerintah yang memaksakan system pendidikan. Bukan juga salah kita yang terdoktrin untuk itu. Ini bukan salah dekan atau dosen. Keadaan ini memang ada dan sudah demikian adanya. Ayah saya pernah berkata “jangan menyalahkan keadaan karena percuma, ga aka nada yang berubah kalo Cuma nyalahin keadaan”. Intinya, berbuatlah sesuatu. Akhirnya pesan terakhir dari tulisan ini, kejarlah nilai (value) bukan nilai (score) dan jadilah bernilai (valuable) bukan ber-nilai (score-able).

Kamis, 04 November 2010

Dua Jenis Orang

beberapa hari sebelumnya ada seseorang tanpa identitas mengirimkan sms pada saya. intinya orang ini bertanya bagaimana caranya melupakan orang yang membuat kita patah hati, terlebih ketika kita masih sayang pada dirinya? bukan jawaban saya yang menjadi penting, sebab 1000x orang bertanya caranya, saya hanya akan menjawab, "belajarlah untuk merelakan." tidak akan ada jawaban lain yang akan saya berikan.

yang menjadi menarik adalah ketika akhirnya saya berpikir dan merenung dari hal itu. dari pengalaman si mr/ms X saya menyimpulkan dua jenis orang di dunia ini. menurut saya hanya ada dua jenis kategori orang bodoh dalam hal cinta. yah, mungkin yang akan saya bahas kali ini kurang mendalam, mungkin nanti kita bisa menambahkannya.

tipe pertama adalah mereka yang menunggu cinta. yang mereka lakukan adalah berharap akan cinta. mungkin mereka sadar cinta yang mereka tunggu tidak pernah akan mereka dapatkan, namun dengan bodohnya mereka menunggu. mereka percaya akan kekuatan cinta dan hasil dari keteguhan akan penantian. mereka tidak menyerak atau mungkin lebih tepatnya terlalu bodoh untuk mengerti bahwa terkadang ci nta tak harus memiliki, bahwa cinta adalah hubungan timbal balik dua manusia dan cinta bukan hanya soal memberi namun juga menerima.

bila kamu membaca paragraf diatas dan merasa tersentil maka hemat saya, sadarilah bahwa cinta tidak sesempit ruang di rongga kepalamu. cinta bukan hanya soal setia. cinta juga bagaimana kita diterima dan dihargai. ribuan tahun kau coba menunggu tanpa kepastian, yakin lah yang didapat hanyalah kesia-siaan.

"menunggu kan bukti kesetiaan." ya, itu benar. tidak ada yang salah dari menunggu, yang salah adalah ketika kau hanya menunggu dan tidak pernah mendapat kepastian. tunggulah dia yang kau sayang, namun carilah kepastian darinya. dan ketika dia bilang "aku ga bisa" atau "ini tidak mungkin" maka buanglah kesempatan itu. bukan berarti merelakan kesempatan sesuatu yang mudah, namun pilihan itu bisa jadi lebih bijaksana. ketika kau merelakan ia yang selama ini kau tunggu ingatlah kata-kata ini "mungkin ia bangga telah mencampakkan mu, namun ia akan menyesal dan ketika ia menyesal nanti kau sudah mendapat cinta sejatimu dan ia akan kecewa lebih dari yang kau rasa" sebab seseorang tidak akan tahu apa yang ia punya sampai ia kehilangan sesuatu.

orang tipe kedua adalah mereka yang mencari cinta tanpa henti, berkelana dan dengan sombong berkata "sebelum aku bertemu dengan orang yang seperti "X" aku tidak akan berhenti". orang tipe kedua ini akan merasa sangat populer dan pasti mencampakan orang yang mencoba tulus mencintainya, bukan karena orang yang datang padanya tidak layak untuk dicintai, namun karena orang tipe ke dua merasa layak mendapat lebih.

jika kau baca paragraf diatas dan merasa cocok dengan dirimu, maka sadarilah hal ini; cinta kadang bukan mencari pribadi yang tepat, cinta adalah bagaimana menjadi pribadi yang tepat. sejauh kau mencari, sejauh itu juga kau akan tersesat dan tidak pernah menemukan. cobalah buka mata, kadang tak perlu berlari mengerjar apa yang dinamakan cinta, sebab cinta terkadang ada disekitarmu. hanya saja kadang kau tidak pernah mau menerimanya dan membuangnya dari hidupmu.

"aku pantas dapatkan yang terbaik" itu benar, namun ketahuilah tidak ada manusia yang ada dalam idemu. buatlah kriteria tentang ia yang pantas jadi kekasihmu dan coba cari. saya berani bertaruh 1000 orang yang kau temui tidak ada satupun yang bakal cocok dengan kriteriamu 100%. atau jika secara kebetulan kau bertemu orangnya, mungkin hanya masalah waktu sampai kau merasa bosan dan akhirnya kecewa pada pilihanmu. jika selama ini kau mencampakan mereka yang mendekatimu dan tidak pernah untuk sekali saja memberikan mereka kesempatan maka ingat kata-kata ini "kita tidak akan pernah bisa mendapat semua hal yang kita cintai, maka cintailah apa yang telah kita miliki". cobalah beri kesempatan bagi mereka yang coba dekati dirimu, dan ketika mereka bukan kriteriamu cukup katakan "maaf, belum saatnya". kadang mereka bukannya tidak cocok denganmu, namun kesempatan kadang tidak diberikan pada mereka.

intinya adalah, mencintai bukan hanya sekedar menunggu dengan bodoh atau mencari tanpa perhitungan. mencintai adalah menggabungkan antara hati dan otak. gunakan perasaanmu untuk membuat cinta bersemi, namun jangan lupa pakai logikamu agar cintamu tidak menjadi cinta yang bodoh. mungkin tulisan ini tidak memiliki makna yang jelas, namun bisa jadi kau mempelajari sesuatu darinya. akhirnya, tiap orang pantas mendapat cinta, maka cintailah orang yang pantas mendapatkannya. tak perlu lama mencari atau menunggu hanya sadari bahwa ada mereka yang pantas untukmu.