Selasa, 21 Desember 2010

Telunjuk vs Ibu Jari


ya, sebuah status di salah satu situs pertemanan membuat saya mendapat insight (pencerahan) mengenai tulisan ini. setelah membaca status itu, saya membayangkan dua perilaku yang biasa kita lakukan sehari-hari menggunakan dua jari kita, ibu jari dan telunjuk. saya mencoba merenung lebih dalam dan saya ingin berbagi dengan teman-teman.

pertama saya membayangkan orang yang menggunakan jari telunjuknya. hal pertama yang saya bayangkan adalah seorang atasan yang otoriter. dia dengan mudah mengacungkan jarinya. terbayang jelas dalam lamunan saya seorang yang dengan kejam menunjuk orang dan membeberkan kesalahannya. membuat orang yang ia tunjuk dengan telunjuknya menjadi malu bercampur takut dan geram dalam hati. dalam bayangan saya orang ini menjadi ditakuti orang disekitarnya.

kemudian tampak jelas dalam bayangan saya orang yang menggunakan ibu jarinya. seorang atasan yang lebi demokratis tergambar dalam benak saya. dia tahu anak buahnya melakukan kesalahan, namun ia tidak menyalahkan anak buahnya itu. ia berkata "kerja yang baik (sambil mengangkat ibu jari), namun kamu bisa lebih baik dan memperbaiki beberapa hal." suasana disana lebih "ayem" menurut imajinasi saya. orang ini menjadi disegani oleh orang disekitarnya.

yang saya mau bagikan kali ini adalah filosofi kecil dari hal kecil yang biasa kita kerjakan. saya mempelajari sebagian kecil materi psikologi sehingga saya mengerti betul pentingnya penghargaan terhadap individu dan pentingnya penguatan. sudah menjadi sifat dasar manusia untuk mencari dan menikmati kenyamanan, seseorang akan bekerja baik apabila berada dalam mood yang baik, dan bagaimana punishment berpengaruh kuat pada kinerja seseorang (mungkin masih terlalu dangkal ya..)

ya, benar. manusia cenderung suka kenyamanan. kita suka apabila di-ada-kan (dianggap ada), maka dari itu menurut saya dsari hal-hal kecil yang kita lakukan kita bisa mulai untuk menghormati orang lain, memanusiakan mereka sebagaimana adanya mereka. dari sini saya mengerti mengapa ibu jari menang melawan telunjuk(sementara hilangkan unsur kelingking). alasannya bukan karena ibu jari lebih besar, tapi sesuai insight yang saya dapat lebih karena "sikap mulia" yang dimilikinya.

yah, sebagian besar dari tulisan ini mungkin hanya bualan karena bagaimanapun ini adalah hasil dari imajinasi saya, namun sebelum tulisan singkat ini saya akhiri, ada satu pesan penting yang ingin saya bagikan "mudah untuk ditakuti oleh orang banyak, namun tak semudah itu untuk dihormati orang disekitarmu" bagaimana caranya agar saya dihormati orang lain? orang dulu bilang hormati orang lain sebagaimana kamu hormati dirimu, dan saya mau bilang manusiakan mereka, dan kamu akan diberi tempat tertinggi di hati mereka.

Tidak ada komentar: