Minggu, 02 Januari 2011

sebuah obrolan khayal


“Katakan pada saya, kenapa saat itu bapak tidak mau menerima saya. Apa ada yang salah pada saya?” tanyaku pada seorang bapak. Dia adalah ayah dari seseorang yang tidak perlu kusebutkan namanya. Ya, percakapan ini adalah pembicaraan yang kuharapkan, atau lebih tapatnya “pernah” ku harapkan. Bertahun-tahun lalu kejadian itu meninggalkan luka yang sangat dalam, membekas jelas. Hari ini seakan aku ingin melampiaskan semuanya. Semua yang aku pendam.

“Nak, kau akan mengerti jika kau telah mengalami yang pernah aku alami, ketika kau berada di tempatku. Ini bukan pekerjaan mudah.” Itu jawab beliau. Jawaban yang sepertinya dapat tuntaskan semua, pembenaran akan hati hancur dan tarumaku bertahun-tahun. Baiklah katakanlah aku maklumi semua, tapi tidak semudah itu berpaling dari sakit yang telah hinggap lama dan gerogoti keyakinanmu. Aku tidak butuh alasan. Dengan mata agak memerah dan air mata yang mulai tak terbendung aku menjawab.

“Tahukan bapak, tiap orang dilahirkan dengan hati yang rapuh. Tiap orang, tak peduli siapapun dia dan dari mana-pun ia berasal. Tak peduli bagaimana orang tuanya mendidiknya, hatinya tetap rapuh.” Ya, itu jawaban yang cukup menohok. Bukan, bahkan sangat menohok. Pelajaran bagi siapapun, jangan pernah menaburkan benih luka, karena yang akan kau dapat adalah sakit yang lebih dalam dari apa yang pernah kau tanam. Itu yang terlintas dalam benakku.

“Kau juga harus tahu, tiap orang tua mengharapkan hal baik terjadi pada anaknya, orang tua-mu juga pasti lebih memilih mengorbankan hati orang lain. Itu lebih baik daripada anak-mu mengalami kepahitan.” Apa yang pernah kuperbuat? Apa yang pernah terjadi? Bahkan aku tak pernah mencoba membuatnya menangis terlebih hancurkan hatinya. Seketika itu juga sesak kurasakan di dadaku, dan sekali lagi aku coba menyerangnya dengan kata-kataku.

“Teganya bapak. Bapak menyama-ratakan semua orang. Apa yang pernah saya lakukan pada bapak? Apakah saya begitu hina dimata bapak?” Kata-kata itu begitu tajam. Saat itu aku cukup puas, namun masih belum sepadan ku rasa. Tepat saat itu juga air mata beliau mulai menetes. Aku yakin benar itu bukan air mata bualan. Itu air mata tulus, air mata penyesalan, namun air mata masih belum cukup. Aku belum mendapat jawaban dari jutaan protesku.

“Maaf.” Kata-kata keluar dari mulutnya dengan sangat pelan. Begitu lirih di telingaku. Ya, rasa sakit yang selama ini terkubur jauh dalam hatiku seakan meleleh oleh kata itu. Benar, kata yang singkat itu. Sebelumnya ada sebuah tembok kepahitan dan kali ini tembok itu telah diruntuhkan. sesaat aku coba mengingat dan aku sadar, dahulu tidak ada satu detik saja waktu diberikan padaku untuk buktikan aku berbeda. Dulu hanya butuh satu detik bagi bapak ini untuk hancurkan impianku, dan kini sepenggal kata “maaf” yang keluar dari mulutnya seakan menghapus semuanya itu.

“Ta.. Baik, apa yang bapak mau dari saya, apa yang bisa saya lakukan untuk bapak?” aku sudah tak mampu berdalih. Semua pahit itu telah lebur. Aku memang tak tahu lagi apakah ada kesempatan lain, atau apakah masih ada lain kali bagiku untuk menumpahkan rasa pedih yang telah bersamaku bertahun-tahun, namun nampaknya hal itu tidak terlalu penting lagi. Aku memang pernah marah, namun kali ini aku juga iba, dan aku tak tahu bagaimana mengungkapkannya. Aku terdiam menahan semua. Hingga ku dengar.

“Dulu saya hanya mengaharapkan anak saya mendapat yang terbaik, namun ternyata saya salah. Saya melewatkan salah satu yang terbaik, saya tak tahu lagi harus bagaimana, saya harap maafkan saya atas apa yang terjadi.” Ketika itu juga jatuhlah butir pertama air mata ku. Rasanya begitu aneh. Bagaimana bangga beradu pedih ketika pengakuan kau terima tepat di saat kau tahu tidak ada yang dapat diubah. Tidak ada yang bisa dikembalikan. Sakit, sangat-sangat sakit.

“Bapak tahu apa yang paling saya benci saat itu? Bukan bapak, terlebih lagi anak bapak. Saya menyalahkan diri saya sendiri yang begitu bodoh. Menyalahkan diri saya yang bertindak tanpa mengerti yang baik dan yang buruk. Jadi tanpa bapak minta-pun saya telah memaafkan semua, memaafkan keadaan yang memaksa saya untuk sakit.” Entah mengapa kesal ku meredup dan hatiku yakin tidak akan menyesali perkataan ku ini.

“Tapi nak, bukan begitu maksud bapak.” Tidak, pikirku. Sebab aku begitu paham maksud beliau, aku tahu mengapa ia mengakatan hal itu, hanya saja semua sudah berbeda antara hari ini dan bertahun-tahun yang lalu. Aku berubah, beliau berubah, bahkan dunia ini. Aku tak menjawabnya, hanya terdiam cukup lama. Ku coba merenungkan semuanya, kesempatan ini, dan memikirkannya baik-baik. Aku hanya berpikir apakah yang akan ku katakan sebagai jawabku, hingga mulutku yang kelu mulai berkata-kata.

“Saya paham betul maksud bapak, namun saat ini berbeda. Semua sudah terjadi dan tak akan dapat diubah sampai kapanpun. Saya berjanji tidak akan menyalahkan siapapun atas apa yang dulu pernah terjadi dalam hidup saya. Semua terjadi begitu saja. Saya berharap yang terbaik yang boleh terjadi dalam hidup bapak. Dia? masih ada dirinya dalam hidup saya, selalu ada. Namun saya yakin dia pantas mendapatkan yang terbaik, lebih baik dari saya, dan bagaimanapun saya tidak dapat kembali, saya sudah memilih hidup saya, jadi maafkan saya.” Dan itu mengakhiri semua. Aku tetaplah aku yang menjalani hidupku, berusaha untuk maju sekalipun kali ini kututup pintu itu dengan tanganku sendiri.

Kali ini aku rasakan lagi pedihnya sebuah keputusan. Rasa pedih yang sama seperti ketika aku berpisah dengan anaknya dulu. Rasa yang hingga saat ini dan sampai kapanpun akan selalu bersama hidupku. Kali ini sebuah kesempatan kubuang, kesempatan kedua yang datang padaku tanpa pernah ku minta. Bodoh memang, namun aku juga harus belajar bahwa masa lalu tidak dapat diulang dan kesempatan hanya ada satu kali. Ketika hidup ini telah kau jalani, jalani dengam rasa syukur. Itulah yang terpenting.

Aku pergi meninggalkan beliau dengan tangisku. Air mata yang dua kali kutumpahkan. Butir yang menetes oleh orang yang sama, namun kali ini semua penuh dengan keikhlasan. Lain kali kami bertemu, kusampaikan terima kasih untuk air mata itu, tetes demi tetes yang pernah menyadarkanku bahwa aku adalah pilihan terbaik. Yang pernah menjatuhkanku dan mengajariku untuk bangkit. Aku berterima kasih untuk bingkisan yang tak akan mungkin ku dapat dari orang lain.

Seketika itu juga aku tersadar dari mimpiku, lamunan panjang di malam kelamku. Ya, sekarang semuanya ini hanya bayangan, semua hanya angan kecuali air mata yang tertumpah. Namun itu bukan kekosongan atau bualan, sebab kini aku yakin perpisahan kali itu yang terbaik, perpisahan kali itu-lah yang memaksa ku membuktikan bahwa aku seharusnya diberi kesempatan.

Aku yakin satu hari nanti akan tiba waktunya percakapan antara kami benar-benar terjadi. Aku mungkin tak tahu apa jawabku saat itu atau bagaimana aku menghadapinya esok, namun satu yang aku tahu pasti, hingga saat itu tiba aku akan membuktikannya. Meyakinkan diriku bahwa aku bukan orang sembarangan. Memastikan bahwa aku salah satu yang terbaik yang pernah terlewatkan.

“Ketika hari ini kau dicampakan dan diacuhkan, lanjutkan hidupmu, tempa dirimu, buktikan bahwa mereka salah membuat pilihan. Suatu hari mereka akan sadar dan ketika mereka menyadarinya mereka akan mencoba kembali padamu, dan bila saat itu tiba, percayalah semua sudah terlambat bagi mereka, sebab kau telah dapatkan yang terbaik bagimu.” -anonim-