Rabu, 30 Maret 2011

berhasilkah saya?

"satu hari saya pernah jatuh pada sebuah kesalahan, saya bangun kembali, kemudian orang lain dan keadaan membuat saya jatuh. akhirnya, saya jatuh lebih sakit dan lebih dalam dari sebelumnya, maka apa yang harus saya lakukan?"

saya rasa jatuh dan bangun adalah hal paling lumrah dalam hidup ini. banyak orang berhasil namun lebih banyak lagi orang gagal. masalahnya sekarang mau sampai kapan kita jatuh. "saya mencoba berdiri, namun keadaan yang menarik saya untuk terperosok lebih dalam." menurut saya itu bukan alasan. kita cari tahu kenapa.

di satu siang yang mendung saya melihat pohon yang tertiup angin. disitu saya menemukan ada 3 jenis daun. daun pertama tertiup angin, namun bergerak mengikuti "irama" tiupan angin. daun kedua bergerak dan gerakannya "berlebihan". daun terakhir tidak bergerak, namun gugur. dan ketahuilah, tidak ada satupun dari daun di pohon itu yang mampu menahan angin.

ya, sekalipun lingkungan memaksa kita jatuh, itu bukan alasan. masalah, persoalan, lingkungan, kita hidup dan berkembang di dalamnya dan tidak akan pernah lepas sampai kapanpun. jadi sekarang pertanyaannya akan jadi daun jenis manakah kita?

apakah daun yang langsung gugur ketika masalah datang? apakah daun yang menghadapi masalah dengan sangat reaktif? atau yang menyelesaikan masalah dengan lebih tenang sekalipun masalah itu sangat kuat? dan kembali lagi pilihan ada di tangan kita.

"apakah usaha selama ini jadi sia-sia ketika kita jatuh lagi?" mungkin yang harus diubah disini adalah cara kita menilai keberhasilan. tidak ada keberhasilan instan (sekalipun ada hanya akan bertahan sebentar). maksudnya, kita tidak disebut berhasil hanya karena pernah sekali saja gagal untuk kemudian bangkit. ketika kita bangkit, akan ada ribuan kesempatan untuk menjatuhkan kita lagi. di sinilah orang dengan keberhasilan sejati teruji. hanya mereka saja yang benar-benar bisa bangkit.

ketika kita jatuh dalam masalah dan bangkit menyelesaikannya kita belum berhasil sepenuhnya, yang terjadi kita mengalami "kenaikan level" untuk menghadapi tantangan yang lebih berat. menurut saya itu tidak sia-sia. itulah bekal kita.

"kapan saya berhasil?" inilah jawaban yang tidak dapat dijawab oleh seorang pribadi, butuh perenungan ke dalam. tanyakan pada dirimu tentang hasrat terbesarmu, tentang tujuanmu untuk dirimu dan dunia ini. berkaryalah menurut ukuranmu. ketika itu terjadi saya rasa kita sudah berhasil..

selamat berhasil.

Rabu, 16 Maret 2011

Insight from Legend of The Guardian


saya memang bukan orang yang doyan merogoh kocek dalam-dalam buat menonton film di bioskop (I used to be like that). tapi bukan berarti saya tidak pernah up-date film. banyak cara yang saya lakukan untuk memenuhi hasrat saya nonton film. beberapa diantaranya adalah dengan download atau iseng menyewa DVD di tempat persewaan.

yup, itu "intro" cerita saya. karena saya tidak akan membahas lebih lanjut lagi. baiklah, singkat cerita dari hobi saya nonton film itulah akhirnya saya mendapat kesempatan untuk menyaksikan film ini, "Legend of The Guardian" judulnya. kabarnya diangkat dari novel berjudul mirip. apa yang hebat dari film animasi berdurasi kurang-lebih satu setengah jam ini? seperti banyak kisah kepahlawanan lain, film ini mengisahkan tokoh jahat dan tokoh baik, penghianatan, pengorbaban, dan kemenangan di pihak yang baik.

banyak hal yang saya dapat dari film ini mengenai realita kehidupan dan kunci sukses dalam hidup. yah, kita akan mulai membahasnya satu per satu. awal kisah dimulai dari sebuah keluarga burung hantu. keluarga ini memiliki 2 burung hantu muda yang baru saja belajar terbang (Soren dan Kludd) dan seekor burung hantu kecil (Eglentine). kedua burung hantu muda memiliki pembawaan berbeda. Soren adalah seorang "pemimpi" yang membayangkan dirinya seorang guardian (para pelindung kebenaran dari kisah kepahlawanan para burung hantu) dan yang lain, Kludd memiliki watak yang lebih serius dan realistis.

singkat cerita ketika selesai berlatih terbang, kedua burung hantu muda harus kembali ke sarang sementara orang tua mereka berburu. yah, namanya burung hantu muda dengan semangat membara, Soren yang lebih marir mengajak saudaranya untuk melatih kemampuan terbang mereka. di sini saya menemukan kunci yang pertama untuk sukses. Soren mengatakan pada saudaranya tips agar bisa melayang dengan mulus dari dahan ke dahan yaitu dengan membayangkan dirinya adalah seorang guardian yang gagah yang sedang berperang di garis depan.

kenapa Soren bisa melayang dengan mulus dari dahan ke dahan? pertama soren membayangkan dirinya seorang guardian yang artinya Soren punya mimpi yang besar. tidak hanya sekedar bermimpi, dia mewujudkan mimpinya lewat pelajaran terbangnya. sehingga dapat disimpulkan mimpi alat pertama yang bisa digunakan untuk berhasil. lewat impian, kita termotivasi untuk berhasil. banyak motivator berkata milikilah mimpi atau bermimpilah. maka jika kita tidak mau terjebak menjadi seorang pemimpi, maka saya akan menggantinya dengan "temukan visimu dan jalani misimu".

kembali ke cerita, singkat cerita kedua burung hantu dan ratusan burung hantu muda lainnya diculik dan Kludd menjadi bagian dari "the pure one" (tokoh antagonis film ini) dan Soren harus menemukan The Guardian untuk menyelamatkan burung hantu lain yang diculik. mereka harus mencapai tree of ga'hoole, namun sebelum itu mereka harus menemukan laut hoolemere. dalam perjalanan mencapai laut ini mereka bertemu dengan 2 sahabat Digger dan Twilight. setelah mencapai pantai, mereka bertemu dengan landak yang memberikan petuah pada mereka. disini saya menemukan kunci sukses kedua lewat kata-kata landak yang memberi petuah, "lihatlah ke langit dan pergilah. ingatlah, bila sayap-sayapmu mulai lelah, semangatmu padam, dan kau telah terbang sekuat kemampuanmu, kau telah menempuh separuh perjalanan."

bagaimana bila dalam perjalanan mencapai kesuksesan saya merasa gagal atau lelah? itu jawabannya. "lihatlah ke langit dan pergilah" saya mengartikannya menjadi "milikilah visi" dan kejarlah itu (melakukannya lewat misi). namun lebih dari itu, ketika kita mulai jenuh dengan jalan kita meraih mimpi (sayap-sayapmu lelah) ada cara untuk membangkitkan semangat kita, yaitu dengan percaya kita sudah "separuh jalan" menuju keberhasilan. banyak orang tidak berhasil mencapai kesuksesan, bukan karena mereka tidak mampu, namun lebih banyak karena mereka menyerah. jika kita merasa sudah "separuh jalan", tanyakan lagi "maukah kamu berhenti disini?"

akhirnya para pejuang kita mencapai tree of ga'hoole, yang tidak lain adalah tempat para guardian tinggal. disini pula tinggal "lyze of kiel" komandan guardian yang pernah mengalahkan "the pure one" dan menjaga kedamaian di dunia burung hantu. namun faktanya pahlawan tokoh utama film ini bukanlah burung hantu yang gagah seperti bayangan tiap anak pada penggambaran tokoh utama sebuah kisah. lyze of kiel adalah seekor burung hantu tua berperawakan kecil dengan tatapan aneh dan sama sekali tidak menggambarkan kegagahannya dalam kisah.

dari sini saya menemukan bahwa seorang pahlawan tidak selalu berpenampilan seperti pahlawan. kadang orang yang terbuang pun bisa menjadi hero dalam sebuah kisah, dan lyze of kiel membuktikannya. jadi untuk menjadi seorang yang sukses cara yang paling ampuh adalah dengan menjadi dirimu apa adanya. banyak anak muda saat ini meniru gaya artis terkenal hanya karena ingin eksis, padahal kesuksesan sejati tidak lahir dari pembungkus kita, tapi lebih dari apa yang kita miliki.

kisah diakhiri dengan kekalahan the pure one dan kemenangan dari pihak guardian. yang menarik dari kisah ini bukan mengenai kemenangan para guardian, namun Soren. dialah yang pada akhirnya membunuh the pure one bukan lyze of kiel. pada akhirnya Soren dinobatkan jadi guardian.

dari akhir kisah saya menemukan dua hal yang sangat menginspirasi. pertama, bahwa kau siapapun dirimu bisa menjadi history maker dan meraih kesuksesan seperti yang dilakukan Soren, hanya saja perlu usaha keras untuk itu. kedua dan ini yang terpenting bahwa usia tidak pernah menjadi penghalang untuk siapapun meraih kesuksesannya.

akhir kata saya menemukan banyak hal dari menonton banyak film, saya rasa pengalaman ini akan lebih berharga jika saya bagikan. semoga bisa mengispirasi kalian juga.

Sabtu, 12 Maret 2011

gagal dalam banyak hal

seleksi apapun dan dalam kondisi bagaimanapun tetap saja akan membuat banyak orang gagal. hanya segelintir yang akan lolos (dan mungkin akan digagalkan langkahnya dalam seleksi-seleksi berikutnya). saya kemudian berpikir mengapa terjadi kesenjangan sosial, apakah ini salah satu dampak dari seleksi? ya, kegagalan seleksi dapat membuat orang kecewa sehingga akhirnya dirinya merasa tidak berkualitas dan.. tebak apa, kesenjangan. itu dalam bayangan saya.

saya menonton film dan menemukan kata-kata ini "apa yang baik dan apa yang buruk bertumbuh bersama di alam tanpa pembedaan. baik buruknya kualitas seseorang bukan berasal dari orang itu, namun berasal dari orang lain." intinya bahwa ketika kita gagal dalam seleksi bukan berarti kita tidak berkualitas, sebab penilaian akan kita akan berasal dari orang yang menyeleksi dan se-obyektif apapun cara seleksinya tetap akan ada unsur subyektifitas.

dari situ saya menarik kesimpulan pertama bahwa sekalipun kita gagal dalam satu seleksi, tidak serta-merta merepresentasikan tingkat kualitas kita. mungkin benar kita gagal karena bidang tempat kita mengikuti seleksi bukan bidanng yang unggul dari kita, namun bukan berarti kita tidak berguna atau terlahir gagal. tetap ada kualitas individu yang kita miliki.

kemudian saya membaca berita tentang orang-orang sukses. pemuda-pemuda terkaya di dunia. yang terekspose media bukan kegagalan mereka, tapi keberhasilan mereka. saya juga membaca biografi beberapa orang terkenal seperti albert einstein atau helen keller. yang orang banyak tahu sekarang adalah mereka-mereka itu genius dan ahli yang mungkin lahir 1x dalam 1 abad, tapi saya berani bertaruh tidak banyak dari kita yang tahu bahhwa mereka pernah gagal dan digagalkan dalam seleksi alam. seperti einstein yang dianggap "idiot", bos pixar yang pernah di drop out dari universitasnya, atau mungkin kisah kaka yang divonis tidak dapat bermain sepak bola selamanya karena penyakitnya di masa kecil, dan banyak kegagalan lainnya.

dari situ saya menemukan kesimpulan kedua, bahwa seribu kali kau gagal bukan masalah. bertahan, mencoba bagkit dan kembali mengejar cita-cita sampai kau sukses itu yang terpenting. kenapa? sebab 1000 bahkan 10000 kegagalanmu seketika akan tertutup oleh kesuksesanmu. contoh konkretnya, ketika saya selalu menerima hasil buruk dalam ulangan harian dan dengan usaha keras berhasil meraih nilai tinggi dalam ujian akhir, rasanya kegagalan yang kemarin tidak pernah ada. sukses bukan berarti selalu berhasil, kadang kita harus gagal bahkan dalam seleksi yang paling sederhana sekalipun.

saya juga pernah menyaksikan acara "golden ways" di salah satu tv nasional. disitu saya mendengar satu statement yang sangat luar biasa, "gagal-lah dalam banyak hal sebab kita pasti akan berhasil dalam satu hal." ya masih tentang kegagalan, bahkan bapak mario teguh berkata begitu. apa maksudnya? setelah beliau memberi penjelasan, saya menjadi paham maksudnya. saya mengambil pendidikan S1 jurusan psikologi. untuk memilih menjadi psikologi, itu artinya saya harus rela dan pasti gagal menjadi seorang dokter atau guru. itu berarti bahkan dalam hidup pun kita mengalami banyak kegagalan jika ingin melanjutkan mimpi atau mendapat harapan kita.

dan ini membawa kita pada kesimpulan berikutnya, bahwa kadang kita memang ditakdirkan gagal, bukan karena kita terlahir gagal (tidak ada ciptaan-Nya yang gagal) tapi karena lewat kegagalan itu kita akan memperoleh keberhasilan. bahasa rohaninya kegagalan kitalah yang akan menunjukkan betapa hebat dan setia Dia (yang kita sebut dengan berbagai nama dan kita sembah dengan berbagai cara) pada ciptaannya.

dari banyak hal yang telah kita bicarakan dari awal tadi saya akan membuat suatu kesimpulan yang menjadi goal dari tulisan ini, bahwa gagal bukan berarti kau lemah atau tidak punya kualitas, mungkin kau hanya perlu mencari sesuatu yang cocok dengan kualifikasimu. kegagalan mu akan satu hal akan membawamu kepada hal lainnya yang mungkin lebih besar dari sebelumnya, ingat pepatah ini "kadang kita tidak melihat pintu kesempatan lain, sebab kita terpaku pada pintu yang sudah tertutup." gagal bukan akhir sobat, lanjutkan hidupmu. yah, semuanya itu akhirnya bermuara pada satu statement yang mungkin baik apabila kita jadikan pola pikir, bahwa 1000 kegagalan akan membuatmu makin mahir. makin banyak gagal akan membuatmu makin kuat dan membuatmu tidak canggung akan keberhasilan. keberhasilanmu akan menutupi semua kegagalanmu.

banyak orang yang berhenti melakukan sesuatu karena ia selalu gagal, bodohnya ia tidak pernah tahu betapa dekatnya ia dengan keberhasilan. jadi gagalah dalam banyak hal, namun kau harus pastikan kau akan berhasil memperoleh sesuatu.

Senin, 07 Maret 2011

bicaralah baru buktikan atau buktikan baru bicaralah?

pengalaman yang luar biasa saya dapatkan lebih kurang seminggu ini. banyak sekali contoh konkret yang saya temukan, nantinya kita akan sampai pada tema kita, tapi sekarang saya mau memberi beberapa contoh.

salah satu teman saya berkata dengan emosi tinggi (begitu bayangan saya) "kalo ga mau digituin sama orang, ya jangan berbuat gitu dong sama orang." kontan saya berkomentar pada orang itu, memangnya kamu diapain sama orang? ya, setelah pembicaraan panjang intinya teman saya itu bilang dia disakiti temannya yang lain. (mungkin saya agak sulit menerangkan, tapi ya dicoba mengerti saja) kembali kepada kata teman saya barusan, saya menarik kesimpulan kalo dia disakiti temannya, itu berarti dia pernah menyakiti temannya. (logis kah?)

contoh berikutnya, ada seorang yang memberi komentar terbuka menyakiti hati tanpa temannya tahu. begitu temannya membaca dan membalas dengan cara yang hampir sama, orang tersebut menjadi emosi. saya membuat kesimpulan lainnya, bukannya ada sebab ada akibat, jika dia tidak memberi komentar pedas, dia takkan dikomentari balik dengan lebih pedas.

baik, sekarang kita masuk ke salah satu teori yang baru-baru ini saya baca, namanya "law of attraction" mudahnya hukum ketertarikan. dari buku itu saya mendapat satu tema besar yang menjadi ide buku itu, bahwa kita selalu mengirimkan "gelombang" tertentu yang akan dikembalikan oleh "dunia". inti mudahnya ketika kita berbuat sesuatu, perbuatan itu akan kembali kepada kita. yah berbuatlah baik, itu mudahnya.

apa kaitannya dengan judul tulisan kali ini? yah yang pertama-tama bahwa ternyata hidup itu harus memikirkan banyak aspek. bahwa bagaimanapun kita hidup di dunia yang sangat sosial dan tiap perbuatan kita dilihat orang banyak. ya, yang seharusnya dan semestinya kita lakukan adalah membuktikan segala sesuatau sebelum kita bicara. bukan berarti kita bisa bicara seenaknya, tapi jagalah.

kata-katamu mencerminkan kepribadianmu. bagaimana penghormatanmu, dan bagaimana orang menilaimu, jadi selamat bertindak...