Minggu, 10 April 2011

manusia dan topengnya


suatu hari kakak angkatan saya pernah berkata, "tantangan belajar psikologi ada 2, yang pertama mulai bosan dengan rutinitas, yang kedua merasa diri sakit karena mengaitkan antara teori dengan kenyataan."

saat itu saya tanggapi dengan biasa saja perkataan itu. dalam hati saya berkata, hal itu tidak akan saya alami (yang mungkin ini bentuk penyangkalan saya). singkatnya saya belajar banyak teori dan pendekatan psikologi. mulai dari gestalt sampai trasendensi. mulai dari sosial sampai klinis. intinya banyak teori yang saya dapat di fakultas ini, dan kesempatan mempelajarinya adalah hal yang sangat luar biasa.

salah seorang dari dosen saya pernah berkata, apabila psikolog adalah seorang ilmuan, maka laboratorium yang ia miliki adalah dirinya sendiri. dengan kata lain untuk membuktikan teori psikologi, kita hanya perlu mengaitkannya dengan apa yang pernah kita alami, apa yang sekarang kita perbuat dan apa yang menjadi tujuan hidup kita.

kesempatan belajar psikologi membuat saya berkesempatan pula bertemu dengan mata kuliah proyektif. yang luar biasa bukan cara dosen yang mengajar atau minat mahasiswa yang diajar, tapi dari materi yang saya dapatkan dari minggu ke minggu. materi aplikatif yang bisa digunakan untuk "membaca, bahkan sisi terkelam hidup manusia". luar biasa bukan? tapi tujuan saya bukan semata-mata untuk itu.

dalam satu bahasan mata kuliah ini saya bertemu dengan bagaimana orang mempertahankan dirinya dari ancaman-ancaman, baik di luar maupun di dalam dirinya. hal itu yang oleh para psikolog disebut defense mechanism. siapapun anda, bagaimanapun orang tua anda, seperti apapun anda menilai hidup anda, anda memilikinya.

intinya, semakin sehat semakin sedikit defense yang digunakan, dan semakin sakit semakin banyak dan rumit pulalah defense yang dipakai. dan bila terlalu banyak menggunakannya, tebak apa? kita sudah masuk pada gangguan psikologis tanpa kita sadari.

berdinamika dalam mata kuliah ini, membuat saya lebih peka (mungkin belum sepenuhnya) dari sebelumnya. pada akhirnya secara sengaja atau tidak saya "membaca" teman-teman saya, dan bahkan semua hal yang saya lakukan dan alami terbaca oleh saya sendiri dan mulailah saya merasa hidup ini salah dan penuh dengan kesalahan. percayalah, keadaan itu kadang menjadi tidak seasyik sebelum saya belajar.

banyak informasi terselubung justru akhirnya saya tangkap dari teman-teman saya. sebuah kalimat pada cerita singkat bisa memantulkan banyak hal yang dipendam oleh teman saya, dan hal itu mulai terbaca oleh saya. pada akhirnya saya mulai menyetujui pendapat freud, manusia itu sakit sesehat apapun dia. saya juga sampai pada kesimpulan bahwa manusia di dunia ini hidup bersama dengan topeng mereka, maka benar bila ada lagu yang mengatakan dunia adalah panggung sandiwara.

lantas saya berpikir, dunia ini penuh dengan topeng, namun topeng itu yang membuat manusia tetap hidup, lantas apa yang harus saya lakukan? pertanyaan ini saya renungkan, namun saya belum mendapat jawaban dari pertanyaan dilematis ini.

satu hal yang saya bisa bagikan kali ini, dunia ini mungkin penuh dengan dosa dan keburukan, seperti kata freud. tapi ada hal cara untuk mengurangi dampaknya. renungkanlah apa yang salah dalam dirimu. cari kembali apa yang janggal di masa lalumu. berdamailah dengan itu, atau setidaknya jika kau tidak dapat ber-rekonsiliasi dengannya, cukup sadari itu dan berbuatlah lebih baik ke depannya.

adalah benar dunia ini memakai topeng kepura-puraan, bahkan saya dalam tiap tulisan saya mencoba untuk menyangkal, menekan, bahkan memproyeksikan sesuatu, tapi bukan itu poinnya, yang terpenting setelah kita menyadarinya dan kita tahu akan selalu hidup bersama topeng kita, belajarlah untuk menggunakannya dengan bijak. belajarlah untuk melampiaskannya dengan baik.

ketika kau merasa orang tuamu gagal mengasuhmu, ketika kau mempertanyakan siapa Tuhanmu, ketika kau merasa tidak pernah puas akan sesuatu, ketika kau tertekan oleh sesuatu yang kau sendiri tak pernah menyadarinya, mungkin itu memang bukan salah mu atau orang sekitarmu, mungkin itu adalah kegagalan kita dalam menyalurkan apa yang selama ini kita pendam. mungkin kuncinya hanya belajar untuk mengelolanya.

"bisakah saya?" saya pribadi belum berhasil melakukannya, namun saya yakin kita semua bisa. freud dan murid-muridnya bisa bilang dunia ini penuh kejahatan, namun freud lewat caranya berusaha untuk memperbaikinya. rogers dan maslow berkata dunia ini tempat yang baik, dan lewat caranya mereka menjaganya. pavlov, skinner, bahkan bandura mencoba mencari cara untuk membuat manusia menjadi lebih baik.

maka bisakah? bukan tugas saya menjawab soal ini, namun tantangan bagi anda untuk menaklukannya.

Tidak ada komentar: