Jumat, 01 April 2011

tembok itu bernama agama

saat saya jalan menuju salah satu rumah makan, saya membaca tulisan "saya, kamu, dan dia bersaudara." saya merasa kalimat itu luar biasa. itu sebelum akhirnya saya membaca kata-kata diatasnya yang merujuk pada komunitas agama tertentu.

dari apa yang saya baca, saya mendapat gagasan bahwa pada akhirnya persaudaraan, persahabatan, rasa kasih dan sayang terbatas oleh suatu tembok besar. tembok itu bukan tembok yang secara nyata kita bisa lihat, namun sekalipun tak terlihat, dayanya untuk membatasi ruang lingkup tidak kalah hebat.

muncul pertanyaan dalam benak saya. jadi tembok ini yang membuat kita mudah terprovokasi dan terintimidasi? jadi tembok ini yang membuat saya dengan mudah menghakimi orang lain? jadi tembok ini yang membatasi persaudaraan saya dengan orang lain? hal ini menjadi pergumulan saya beberapa waktu ke belakang. hal ini pula yang membuat saya akhirnya memiliki sudut pandang saya soal agama.

saya membaca kembali salah satu perumpamaan Yesus dan mencoba menterjemahkan pengertian menurut saya. perumpamaan yang saya maksud adalah tentang orang samaria yang menolong orang yang dirampok sekalipun tidak ia kenal sama sekali, dan doa orang farisi dibandingkan dengan doa pemungut cukai.

pada perumpamaan pertama, Yesus menggunakan orang samaria sebagai model yang baik dan orang-orang "beriman" sebagai model buruk. dari situ ada dua hal yang saya dapatkan. pertama-tama bukan karena saya mendalami agama tertentu maka saya menjadi beriman pada Tuhan. berikutnya, bukan karena saya berbeda dengan orang lain, maka saya menjadi berhak untuk menghakimi dan menolaknya.

hal pertama, saya beragama, saya rajin beribadah dan berdoa, , maka saya beriman pada-Nya. menurut saya kita harus melihat satu hal lain yang tidak kalah pentingnya. bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. dalam berbuat (dalam hal ini berbuat baik) tidak harus memandang siapa saya, siapa dia, apa agama saya dan apa agama dia. berbuatah tulus.

kedua (maaf agak fulgar), mengapa sekarang ini banyak terjadi perang antar agama? saya memandang hal ini disebabkan adanya egosentris agama. terkadang agama tidak menjadi alat untuk memberi kerangka hidup bagi seseorang dalam bertindak, tapi lebih sebagai alat mendoktrin orang lain dan alat mengintimidasi orang. maka apakah bedanya saya dengan orang yang tidak beragama apabila saya masih suka menghakimi, menindak, mencaci orang lain? bahkan terkadang mereka yang mengaku tidak beragama melakukan hal yang lebih manusiawi daripada orang yang beragama. lantas, masih pantaskah kita mengatakan surga sudah ku miliki?

berikutnya mengenai doa orang farisi dan doa pemungut cukai. dalam kisah ini, orang farisi dalam doanya membandingkan dirinya dengan pemungut cukai (saat itu ia menjelek-jelekkan pemungut cukai). sementara dilain pihak, pemungut cukai mengaku salah akan dosa-dosanya, lantas menurut anda siapakah yang doanya lebih didengar?

begitupula kita, sekarang cobalah merenungkan diri, berapa kali kita mencibir agama lain dan menganggap diri kita dan jalan yang kita pilih adalah yang terbaik? berapa kali juga dalam hidup kita gunakan topeng dalam menghadapi orang lain? pernahkah sekali saja kita menyadari bahwa hal-hal kecil inilah yang nantinya memperkuat kesenjangan dan batas antar individu?

ya, pada akhir perenungan saya, saya menemukan bahwa Yesus tidak pernah menciptakan agama. bahwa cara hidup-Nya adalah cara yang universal. bahwa baginya yang terpenting tidak sekedar beribadah, namun juga berbuat bagi sesama. bahwa contoh-contoh yang ia berikan mempunyai satu tema khusus "bukan golongan tertentu yang menyenyelamatkanmu", tapi bagaimana kau menjalani hidupmu.

bagaimana saya mengakhiri batas hidup saya? apakah harus dengan saya tidak beragama? bukan itu inti dari semuanya. esensi sebuah agama adalah sebagai cara pandang. maka jangan pernah gunakan agama ataupun kepercayaanmu sebagai alat untuk menyerang atau membatasi diri dari duniamu.

saya sendiri memandang kekristenan sebagai gaya hidup, bukan agama. jadi ke gereja tiap minggu memang penting, berdoa dan baca kitab suci adalah baik, namun itu bukan esensi kekristenan. kristen sejati adalah ketika saya mau berbuat untuk orang banyak. mau merubah sesuatu yang belum baik menjadi lebih baik.

menurut saya dunia ini menjadi tempat yang lebih baik apabila saya, anda, dia, mereka, kita semua memandang bukan dari perbedaan kita, tapi lebih kepada perbedaan hanya ada pada cara kita melakukan sesuatu, namun tujuan kita tetap satu.

runtuhkan tembok itu.

Tidak ada komentar: