Minggu, 08 Mei 2011

belajar dari abraham

Q:

kamu suka sama seseorang. pertama kali kamu di tolak. tapi kamu ga nyerah. kamu bawa masalahmu dalam doa. kamu tunggu dia. sampe akhirnya dia bilang dia juga sayang sama kamu. kalian jadian. kamu brusaha jadi 'kekasih terbaik' buat dia. sebaliknya menurut kamu dia juga berusaha buat jadi pasangan yang baik buat kamu.

sejauh yang kamu tahu, hubungan kalian baik. akhirnya kamu memutuskan untuk pulang ke kota kalian untuk minta ijin ke orang tua mu dan orang tuanya. kamu ngomong ke ortumu, mereka merestuimu. esoknya kamu pergi ke rumahnya untuk minta ijin ortunya, sampai di depan rumahnya kamu ketemu orang tuanya.

bahkan kamu belum di ijinkan masuk, papanya bertanya maksud kamu. dengan jujur kamu katakan maksud kedatanganmu dan tebak, penolakan kamu terima. kamu tak tahu harus apa sampai akhirnya kamu telpon dia. kamu katakan yg terjadi. dia menangis, dia tak bisa menjawab dan katakan minta waktu berpikir.

oke, kamu kembali menunggu sampai akhirnya dia memilih berpisah. Dia katakan sejujurnya dia tidak mau kehilangan kamu. Tapi orang tuanya terlanjur tidak setuju, dia tidak mau citramu dimata ortunya bertambah buruk bila kalian terus berhubungan.

kamu yang awalny berkeras akhirnya luluh setelah dia memohon. dengan sesak dan tangis tertahan, kamu katakan ya kemudian bilang akan pergi dari hidupnya, tapi hati kamu tetap sakit, sangat.

Selang beberapa waktu kamu berdoa, kamu berusaha mengucap syukur, kamu jujur sama Tuhan. tapi hati kamu masih teriak, apa yang salah? apakah dia bukan orang yang pantas buat kamu? ato sebaliknya? kalo dia bukan jodohmu, kenapa kamu sayang sama dia dan kenapa sayang kamu bertumbuh? kenapa rasanya usaha sama penantian kamu hasilnya cuma segitu?

kamu mau marah, tapi marah pada siapa? Tuhan? namun, kamu berpikir siapa dirimu sampai kamu berhak marah pada Tuhan? kamu akhirnya membayangkan, teman-teman disana pasti cuma bisa mencemooh kamu, membuat ceritamu menjadi bahan bualan mereka. kamu mempertanyakan lagi kenapa keadaan memaksamu begitu?

kamu menangis sejadinya di dalam hati. logikamu bilang, saat inilah Tuhan membentuk hidupmu. namun perasaanmu berkata hal ini tidak adil buatmu. kamu teriak meminta keadilan, namun logikamu bilang semua tidak ada gunanya. bila kamu ada di posisi itu, apa kamu masih mikir dia orang yang salah buatmu?

A:

tidak ad yang salah atau istilah pribadi yang salah. yang salah adalah ketika kamu sengaja menghadapi hal ini dengan cara yang salah. sadarkah kamu bahwa Tuhan (bagaimanapun kau menyebutnya) punya kasih yg lebih besar dari saya dan siapapun di dunia ini. Dia akan melakukan hal yg lebih luar biasa lagi dari apa yang bisa dilakukan oleh siapapun di dunia ini.

Taukah kamu perasaanNya atau pernah kah setidaknya membayangkannya? jadilah 'simple', jadilah polos. menangislah seperti anak kecil yang menangis ketika ayahnya tidak membelikannya mainan yang diingininya, meskipun ia sudah merengek2 berhari2 smp kehabisan suaranya. apapun keputusan seorang ayah, ia tetap ayahmu. dan beliau sedang mendidik kamu. km sedang dididik untuk menjadi lebih kuat.

tidak perlu berpikir saat kamu tidak harus berpikir, tidak perlu gunakan logikamu ketika kamu tak harus berlogika. Rasakan dengan hatimu. bila itu sakit, teriaklah "Tuhan!!! ini sakit!!!", dan jika kamu ingin menangis, menangislah.

saya yakin, Tuhan tidak akan marah. Seperti seorang ayah yang memeluk anaknya ketika sang anak menangis karena kesakitan. Ia akan memelukmu meskipun kamu menangis sambil terus memukulNya.

Dia punya maksud yang besar atas kehidupanmu, dan Ia akan terus menunggu sampai kamu tenang. cukup tenang hingga Dia bisa mengutarakan alasanNya kepadamu kenapa Ia memutuskan hal itu untuk terjadi.

berdoa padanya, ucap syukurlah buat yang kamu alami. berterimakasihlah karena kamu kesakita, berterima kasih karena kamu ga bs berhenti menangis, terima kasih bahkan karena kamu ga mengalami sesuatu yang cukup baik untuk kamu bisa berterima kasih.

terdengar konyol memang, tapi coba kamu lakukan. berterimakasihlah dan ucap syukur kepadaNya sampai damai datang kepadamu. terus rasakan hingga logikamu tunduk dan takluk dibawah hatimu yang telah diperbaharui.

The Secret of Life is Letting Go. Rela lepaskan segalanya demi Tuhan. pikirkan, pernahkah kamu mencintai Dia sampai seperti kamu mencintai kekasihmu? ataukah kamu sedang memaksa Tuhan agar kamu dapat apa yang kau mau?

akan selalu terasa sakit bagi anda jika anda berusaha mati2an mempertahankan sesuatu atau mendapat sesuatu. akan selalu terasa sakit jika hati kita menginginkan dan terikat kepada sesuatu. karena itu "Lepaskanlah, relakan."

belajarlah dari Abraham. setelah ia menunggu puluhan tahun lamanya akhirnya anak yang dijanjikan Tuhan lahir. dan tahukah kamu apa yang Tuhan minta dari Abraham? "persembahkan anakmu." dan Abraham benar-benar menaruh anak yang sangat dikasihinya dan sudah dinantinya selama puluhan tahun ini di atas mezbah korban persembahan. ia benar-benar akan mempersembahkannya, dengan tangannya sendiri.

belajar darinya. persembahkan kepada Tuhan apa yang paling km kasihi saat ini, bahkan tunjukkan kepadaNya bahwa kamu rela mempersembahkannya kapan saja demi Tuhan. karena seperti Tuhan menyelamatkan cinta Abraham kepada anaknya dengan memberikan domba sebagai pengganti korban, demikianlah Tuhan akan menyelamatkan kita dengan segala yang ada pada kita.

Bila apa yang baik menurutmu baik pula menurut Tuhan, maka ada dua kemungkinan ia melakukan sesuatu yang tidak adil menurutmu. Pertama ia ingin menguji kesetiaanmu pada Dia, dan yang kedua dia sedang mendidikmu untuk setia pada-Nya. Bila kau lulus ujian ini, dia akan dikembalikan padamu. Pertanyaannya, maukah kau belajar dari abraham?

Tidak ada komentar: