Sabtu, 14 Mei 2011

berbahagialah sebab akupun demikian


suatu hari seorang muda datang pada ibunya. sambil menahan air mata ia menopangkan kepalanya dalam pangkuan ibunya. ia bertanya dengan nada kesal, "ibu, apakah mencintai harus selalu seperti ini?"

sang ibu tidak mengerti kenapa anaknya bertanya demikian, lantas ia berkata "ada apa denganmu, anakku? ceritakan apa kau alami."

"ada seorang di luar sana, aku menyayanginya dengan segenap hatiku, namun takdir membuat kami terpisah. waktu membuat kami jauh. jarak membuat kami tak mengenal satu dengan yang lain. kini, aku hanyalah aku sebelum aku mengenal ia." begitulah sang anak menceritakan seluruh masalah yang ia alami pada ibunya.

"sakit ibu, sakit.. saat ini aku hanya dapat berdiri terpaku meratapi masa lalu, dan diam dalam hampa sekalipun terhanyut pada nada-nada tawa." begitulah sang anak melanjutkan keluh kesahnya pada ibuya.

sang ibu memandang mata anaknya yang mulai berkaca-kaca, ia membelai rambut anaknya dan berkata "anakku, kau mungkin pernah mendengar pepatah lama berkata mencintai adalah berbahagia ketika melihat ia yang kau sayang bahagia sekalipun kau tidak pernah ada dalam bahagianya, maka lakukanlah."

"tapi ibu, bukankah itu tindakan bodoh, masakkan kau kau harus berbahagia melihat yang kau sayangi memilih berbahagia dengan orang lain?" tanya sang anak sembari menyeka air matanya yang mulai menetes.

sang ibu mengangkat kepala anaknya agar mereka bisa bertemu pandang. lantas ia bicara dengan nada lembut, katanya "ketahuilah cinta adalah perasaan, kau tidak butuh berpikir untuk merasakan sesuatu. yang perlu kau lakukan adalah merasakannya. biarkan dirimu terhanyut dalam rasamu. saat kau bersedih, menangislah. saat kau bahagia, tertawalah. jangan pernah cari alasan untuk itu."

sang ibu melanjutkan, "ketahuilah bahwa iapun menangis dalam tawanya, bahwa iapun tersesat dalam candanya, bahwa iapun terkadang memikirkan engkau. namun ia yakin kau akan mendapat yang lebih baik. ia ingin kau bahagia bukan hanya untuk dirimu, namun untuknya."

maka dari itu ucapkan ini dalam doamu bagi dia yang kau sayang, "ketika hari ini kau telah menemukan dirimu dalam bahagiamu, berbahagialah sebab akupun demikian. ketika perahumu telah berlabuh dalam rasa suka citamu, berbahagialah sebab akupun demikian. ketika hari ini kau tertidur berselimutkan kedamaian dan bermimpi akan keindahan, berbahagialah sebab akupun demikian."

katakanlah dengan setulus hatimu "berbahagialah, bukan hanya untukmu, tapi juga untukku."

sobat, ketika hari ini kau berbahagia, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya orang yang kau sayang atau mungkin pernah kau sayang sedang mencari bahagianya, bukan hanya untuknya, namun juga untuk dirimu.

14 mei 2011, berbahagialah.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

ehalyang saya atakan adalah seperti yang pernah saya katakan kepada anda, bahwa perasaan yang telah dilogikakan bukan lagi perasaan namanya.
kemudian hal yang saya komentari berikutnya, atau lebih tepatnya saya pertanyakan terlebih dahulu adalah apa essensi dari "bahagia" itu sendiri.
kemudian jika seseorang mencari bahagianya bukan hanya untuk diri sendiri melainkan untuk orang yang dia sayangi juga, apakah perspektif kata bahagia mereka sama?
bagaimana jika ada kasus bahagia yang dicari seseorang tersebut bukan bahagia yang dirasakan juga oleh orang yang dia sayangi,
sepertinya kita perlu mendiskusikan di kelas lagi.. hehe