Minggu, 01 Mei 2011

dengarkan dan dukung

sering dalam hidup kita mendengar banyak cerita, mendengar banyak tanggapan, dan banyak curahan hati. dari banyak pengalaman, kita akhirnya terbiasa memberi masukan, memberi sanggahan, atau alasan. kita merasa sudah ahli dalam hal itu kita merasa sudah biasa dan bisa melakukannya, namun tak banyak dari kita yang sadar bahwa sedikit banyak kita melakukan kesalahan.

saat seorang bicara mengenai masalah atau memberi pandangannya atas sesuatu, banyak diantara kita (bahkan saya pun sering) yang memberi pendapat dan masukan berdasarkan apa yang pernah kita alami atau apa yang sedang kita rasakan. padahal mungkin hal itu bukan hal yang mereka butuhkan. mungkin yang mereka inginkan hanya didengar dan didukung.

pertama-tama sebelum memulai segala sesuatu, kita harus menyadari bahwa tiap orang hidup dalam pengalamannya sendiri. mungkin hal yang dialami sama, namun hal yang didapat dari masalah akan sangat tergantung dari pribadi masing-masing. jadi sebelum menentukan akan memberi tanggapan balik ada baiknya kita menyadari hal itu.

selanjutnya, yang harus kita latih terus adalah kepekaan kita untuk mendegarkan dan mendukung. bayangkan ketika kita punya masalah besar,kadang yang kita butuhkan bukan nasihat orang lain, bukan pula orang lain menyalahkan apa yang kita pilih. kadang yang kita butuhkan hanya didengar. begitu pula ketika orang lain dengan masalahnya datang padamu, kadang yang mereka butuhkan adalah orang yang mendengar dan mendukung, bukan penasehat.

jika kedua hal itu sudah kita pegang dan kita terapkan, maka ada baiknya ketika kita menerima orang yang memiliki masalah datang pada kita, dengarkan ia, dukung ia, jangan hakimi atau menyela apa yang ia ungkapkan. cukup perhatikan ia, bayangkan jika kau berada di posisinya. jadilah seakan-akan kau dirinya.

apakah aku tidak dapat memberinya masukan? tentu saja bisa, hanya harus ada dua kondisi yang harus dan wajib untuk dilihat. pertama, apakah ia yang bercerita padamu butuh untuk diberi masukan? jika dan hanya jika ia meminta masukan darimu, maka kau baru boleh memberinya masukan.

kedua kembali lagi bahwa saya, kamu, dia, kita, mereka berbeda. segala sesuatu dalam hidup sangat berhantung pada pengalaman dan kemampuan tiap individu. maka akan sangat bijaksana untuk tidak memasukkan apa yang pernah kau dapat dari pengalamanmu atau apa yang kau lakukan saat ada dalam posisi orang itu dalam memberi saran. tapi ungkapkanlah "seandainya aku adalah kamu (atau) seandainya aku yang mengalami masalah itu aku akan.."

jika kita telah berhasil melakukannya, selamat kita telah lulus dalam penerapan empati. orang bermasalah tidak butuh dihakimi atau dinasehati, sebab mereka sudah terlalu banyak mendapat nasihat dan terlalu jenuh dihukum oleh masalah mereka. mereka hanya butuh didengar, dimengerti, dan didukung. jadi, siapkah anda mendukung mereka?

Tidak ada komentar: