Rabu, 08 Juni 2011

Tuhan, Kenapa Begini?

satu malam seorang pemuda yang terkenal dengan sikap emosinya berdoa pada Tuhan. ia berkata dalam doanya, "Tuhan, aku ingin sekali berubah menjadi orang yang sabar. namun aku tidak tahu bagaimana caranya. maka aku mohon pada-Mu, ajarlah aku untuk bersabar. amin."

demikian doa pemuda itu. esoknya ia mendapat pengalaman yang luar biasa, dimana setiap orang yang ia temui marah padanya. sebagian besar ia sadari karena ia pernah berbuat salah pada orang itu sebagian besar lagi ia tidak tahu penyebabnya. apa yang ia lakukan, ia menanggapinya dengan emosi yang tinggi.

malamnya, ia kembali berdoa. katanya "Tuhan, mengapa hari ini aku masih saja menjadi orang yang mudah emosi? ajari aku untuk bersabar ya Tuhan. amin."

apa yang terjadi esoknya? ia mengalami hari yang baginya menjadi hari paling sial. ban motornya bocor, ia terlambat kuliah, tugasnya lupa dibawa, dan saat pulang coba tebak? ia kehujanan. bagaimana ia menghadapinya? masih dengan emosi.

malamnya pemuda ini kembali berdoa. katanya, "Tuhan, hari ini saya mengalami banyak hal yang membuat saya emosi. apakah doa saya kurang tulus? maka saya mohon, jadikan saya orang yang sabar. terima kasih Tuhan, amin."

keesokan harinya yang iya dapati adalah hari yang lebih mengesalkan dari sebelumnya. tanpa tahu apa alasannya ia dipanggil ke kantor dekan. disana akhirnya iya tahu bahwa ia menjadi tertuduh kasus corat-coret tembok kampus. ia menjadi tertuduh dengan alasan catatan sikap buruknya selama ini. ia yang memang tidak melakukannya mencoba menjelaskan, namun ia tetap menjadi tertuduh. ia diharuskan untuk mengecet ulang tembok yang dimaksud. ia marah, namun ia coba untuk tidak meluapkan kemarahannya. dengan menggerutu ia mengerjakan hukuman.

malamnya pemuda ini kembali berdoa. katanya, "Tuhan, saya tidak meminta hal yang muluk-muluk, saya hanya minta jadi orang yang sabar. apakah itu salah? saya mohon Tuhan, jadikan saya orang yang sabar. amin"

besoknya kebetulan hari libur. ia diminta orang tuanya membelikan tiket bus keluar kota. di jalan menuju terminal terdapat genangan air. dengan hati-hati ia coba menghindar, namun mobil dengan kecepatan tinggi melintasi genangan itu, dan cipratannya mengenai bajunya. alhasil bajunya menjadi basah kotor dan bau. ia ingin marah, namun ia rasa tidak pantas baginya untuk marah. sesampainya di loket pembelian tiket ada seorang ibu yang berkomentar negatif tentang penampilannya tanpa tahu alasannya. ia ingin marah, namun baginya tidak ada gunanya marah pada ibu itu. tidak berapa lama antriannya diserobot seorang bapak yang beralasan sangat terburu-buru, ia sekali lagi ingin marah, namun ia pikir bapak itu pasti sangat terburu-buru, maka ia mengurungkan niatnya marah. sesampainya di depan, diinformasikan bahwa tiket habis, dan ia diminta kembali besok. ia ingin marah, namun baginya hanya akan buang-buang tenaga apabila ia marah.

maka malamnya ia berdoa lagi. katanya, "Tuhan, aku sudah sangat bersabar menunggu Kau menjawab doaku. namun apa yang Kau berikan hanyalah hari-hari penuh alasan untukku marah. kenapa kau mengujiku saat aku butuh bantuan? apakah ini tanda bahwa aku tidak bisa bersabar? apakah aku kurang sabar Tuhan? aku mohon kabulkanlah doaku Tuhan. amin."

selepas ia mengucap amin ia menjadi sadar akan satu hal, bahwa sesungguhnya dalam beberapa hari ini ia telah berubah dari orang yang sangat mudah emosi menjadi orang yang sangat sabar. sabar dalam menghadapi orang dan sabar dalam menanti jawaban dari Tuhan.

ada dua hal yang bisa kita simpulkan dalam cerita diatas.
pertama bahwa Tuhan punya cara untuk menjawab doa kita, bahkan lewat hal-hal yang tidak kita sadari. seperti pemuda tadi, mungkin pernah kita meminta yang baik namun hal yang buruk malah kita alami, namun sadarilah setelah yang buruk itu kita lewati, maka hal baik yang kita minta akan terpenuhi bahkan mungkin lebih daripada yang kita bayangkan.
kedua bahwa semuanya butuh proses dan usaha keras. Tuhan bukan jin-nya aladin yang bisa mengabulkan tiap permintaan secara instan. butuh proses sampai doa terwujud. berapa lama? itu rahasia Tuhan. yang terpenting adalah bagaimana kita turut berusaha dalam proses itu.

sadarilah bahwa kita seperti sebuah ember kayu dan Tuhan seperti samudra luas. sebuah ember kayu tidak akan sanggup menampung seluruh isi samudra. maka menurut saya jangan coba untuk mengerti jalan pikiran Tuhan, namun cobalah untuk merasakan apa yang Tuhan mau dalam hidupmu. berproseslah!

Selasa, 07 Juni 2011

doa yang didengar

suatu siang saat menunggu jam kuliah, saya sempat ngobrol dengan suster eflin (yah, namanya juga universitas katholik milik jesuit, jadi suster yang kuliah bersama bukan hal yang aneh). saat itu saya menanyakan perihal doa.   hal berikut ini adalah apa yang saya dapat selama ngobrol dengan beliau.

masalah doa bukan masalah konteks. bukan juga masalah panjang atau pendeknya isi doa, namun masalah ketulusan dalam mengucapnya dan iman dalam mengharapnya. doa tidak berbicara kata-kata yang indah atau rumit melainkan kata-kata sederhana yang berasal dari hati yang bernar-benar berpasrah.

ketika kita selesai berdoa yang perlu kita lakukan adalah berusaha dan berpegang teguh pada pengharapan akan apa yang kita doakan. bukan masalah apabila doa itu dikabulkan hari itu juga atau sepuluh tahun lagi, sebab bagaimanapun Tuhan punya waktunya sendiri, Tuhan punya alasannya sendiri dalam proses pemenuhan doa.

dalam berdoa ingatlah ini, bahwa yang Tuhan kabulkan bukan apa yang paling kita inginkan namun apa yang menjadi kebutuhan kita. jadi apabila dalam doa kita ada hal yang belum terkabul, mungkin itu dikarenakan doa kita penuh dengan keinginan kita. lantas apakah itu berarti selamanya kita tidak akan pernah mendapat pengabulan doa untuk setiap keinginan kita?

jawaban yang saya dapat sangat luar biasa "suatu hari saya meminta banyak hal untuk menikmati hidup, namun Tuhan memberi saya hidup untuk menikmati banyak hal". yah, intinya ketika setiap kebutuhan kita dipenuhi Tuhan, maka kita memiliki 1000 alasan untuk memenuhi keinginan kita dan akhirnya satu jawaban atas dua masalah bukan?

masalah doa adalah masalah pribadimu dengan Tuhan. tidak perlu kau mencari doa tertentu untuk mendoakan sesuatu. tapi ucapkanlah apapun yang menjadi keluhanmu kepada Tuhan. dengan kata-katamu sendiri.