Selasa, 07 Juni 2011

doa yang didengar

suatu siang saat menunggu jam kuliah, saya sempat ngobrol dengan suster eflin (yah, namanya juga universitas katholik milik jesuit, jadi suster yang kuliah bersama bukan hal yang aneh). saat itu saya menanyakan perihal doa.   hal berikut ini adalah apa yang saya dapat selama ngobrol dengan beliau.

masalah doa bukan masalah konteks. bukan juga masalah panjang atau pendeknya isi doa, namun masalah ketulusan dalam mengucapnya dan iman dalam mengharapnya. doa tidak berbicara kata-kata yang indah atau rumit melainkan kata-kata sederhana yang berasal dari hati yang bernar-benar berpasrah.

ketika kita selesai berdoa yang perlu kita lakukan adalah berusaha dan berpegang teguh pada pengharapan akan apa yang kita doakan. bukan masalah apabila doa itu dikabulkan hari itu juga atau sepuluh tahun lagi, sebab bagaimanapun Tuhan punya waktunya sendiri, Tuhan punya alasannya sendiri dalam proses pemenuhan doa.

dalam berdoa ingatlah ini, bahwa yang Tuhan kabulkan bukan apa yang paling kita inginkan namun apa yang menjadi kebutuhan kita. jadi apabila dalam doa kita ada hal yang belum terkabul, mungkin itu dikarenakan doa kita penuh dengan keinginan kita. lantas apakah itu berarti selamanya kita tidak akan pernah mendapat pengabulan doa untuk setiap keinginan kita?

jawaban yang saya dapat sangat luar biasa "suatu hari saya meminta banyak hal untuk menikmati hidup, namun Tuhan memberi saya hidup untuk menikmati banyak hal". yah, intinya ketika setiap kebutuhan kita dipenuhi Tuhan, maka kita memiliki 1000 alasan untuk memenuhi keinginan kita dan akhirnya satu jawaban atas dua masalah bukan?

masalah doa adalah masalah pribadimu dengan Tuhan. tidak perlu kau mencari doa tertentu untuk mendoakan sesuatu. tapi ucapkanlah apapun yang menjadi keluhanmu kepada Tuhan. dengan kata-katamu sendiri.

2 komentar:

Ku Lihat, Ku Dengar, Ku Rasa mengatakan...

slam kenal.
sya ikut follow ya, trmksih

Daniel Gatyo mengatakan...

sip, nanti saya follow back.