Sabtu, 09 Juli 2011

Farewell my Brother

banyak yang saya alami dengan dia. 19 tahun hidupnya selalu bersama dengan saya. saya mengenal dia mulai dari kanak-kanak hingga ia menutup mata. saya berbagi tawa dan duka bersama dia. saya setuju dengan ucapannya dan kadang berkelahi karena tidak sepaham dengannya. dia adalah sosok yang tidak akan saya lupakan sampai kapanpun.

kali ini saya akan menceritakan sisi lain dari dirinya, bagaimana ia menghadapi segala masalahnya dan tetap tegar, bagaimana ia jatuh dan bangkit kembali, bagaimana ia melawan, bagaimana ia mengakhiri perlombaan itu dan saya yakin ia memenangkannya.

pertama yang akan saya tunjukkan adalah video ini, belum lama setelah ia divonis mengidap penyakitnya ia meminta saya mengabadikan dirinya yang sedang menyanyikan lagu gereja. saat itu lagu yang ia pilih adalah lagu "Allah Mengerti" dan hari ini saya paham kenapa, siapapun, siapapun tidak akan sanggup dan tidak akan pernah mengerti apa yang dialaminya hanya Tuhan, dan ia menyerahkan apa yang dialami pada Tuhan, ia tahu dan coba ungkapkan bahwa Tuhanlah yang mengerti dirinya.


ya, setiap kali saya melihat video ini saya seakan ingin menangis, sama seperti saat saya merekamnya dulu. balakangan saya menemukan bahwa ia menulis sebaris tweet di akunnya sekitar 4 bulan lalu. ia menulis, "sometime I feel my life is so short.. But no matter how long I can stand at this world, if I do the right thing at God ways that's enough."
sebuah ungkapan yang membuat saya terenyuh. saat biasanya orang mulai mempertanyakan Tuhan, ia malah menyerahkan hidupnya pada Tuhan. ia malah mengatakan siap menghadapi apapun selama berada dalam lindungan Tuhan. ia menyadarkan saya bahwa manusia itu kecil. 

apakah ia berhasil? tidak!! ia gagal, namun itu menurut ukuran kita manusia. ia menyerah, namun itu menurut pandangan kita manusia. pada pukul 3 lewat tanggal 5 juli 2011 ia dipanggil Tuhan, ia mengakhiri perlombaannya dan menerima mahkotanya. ia menyelesaikannya dengan satu hal, kemenangan. ia finish sebagai anak Allah, sebagai orang percaya dan makhluk tebusan. selamat jalan adikku, maaf kakakmu ini tidak bisa berbuat banyak. maaf kakakmu ini punya banyak cela. aku sudah merelakanmu menghadap-Nya.




"bagian terberat dari kesedihan adalah menyadari bahwa air mata bukan penyelesaian masalah. Sudah cukup air mata itu, sekarang lanjutkan semangat hidup yang ia miliki"