Rabu, 21 September 2011

Masalahnya Kita Lupa

Belakangan ini saya cukup tersentak dengan beberapa status di sebuah situs pertemanan yang menyatakan mengenai pendidikan hanya untuk orang kaya atau masalah anak orang kaya dapat beasiswa. Ya, sadar atau tidak, ini lah realita yang terjadi di negara ini. Pendidikan (walaupun tidak hanya dalam soal pendidikan saja) seakan hanya diperuntukkan bagi yang mampu dan parahnya lagi, yang mampu masih mencari lahan mereka yang berkekurangan. Memang benar salah satu tajuk berita yang menyatakan "orang indonesia berebut jadi miskin". Ya. kita harus mengakuinya dengan sportif bahwa hanya disini kita (secara sadar atau tidak) berebut dan bangga jadi orang miskin.

Saya mencoba mencari tahu apa sebenarnya akar permasalahan kita, dan saya menemukan bahwa sebenarnya kita hanya "lupa". Lupa pada apa? Semoga tulisan saya kali ini bisa membuat kita sadar (dalam hal ini termasuk saya).

Pertama, saya ingin menyoroti soal beasiswa beasiswa untuk orang kaya atau lebih tepatnya anak orang kaya. Satu hari saya pernah menulis status yang bernada seperti ini, "apakah tidak ada beasiswa untuk orang "mampu"? Orang tua saya mampu, hanya saja saya mau kuliah dengan usaha saya sendiri". Status ini saya buat karena saya merasa kesal melihat ada tulisan "keterangan tidak mampu dari RT" pada setiap syarat untuk mendapat beasiswa. Bagi saya saat itu; "ayolah, saya bukan pengemis yang ingin minta uang cuma-cuma. Saya mau mendapat sesuatu karena saya pantas mendapatkannya". Ya, bila kita tidak lupa mengendarai apa ke kampus, bila kita tidak lupa makan apa setiap harinya, dan bila kita tidak lupa aksesoris yang melekat di tubuh kita, seharusnya kita malu ikut bersaing memperebutkan beasiswa dengan embel-embel keterangan tidak mampu.

apakah saat ini saya mencari beasiswa, sepertinya pada akhirnya saya merasa saya belum begitu butuh beasiswa, lagipula menurut saya pribadi ada semacam tanggung jawab moral baik untuk instansi yang memberi dana, diri sendiri, dan untuk orang-orang yang kita "khianati" karena hak nya kita ambil (sekalipun ada seleksi dan kompetisi untuk mendapatkannya).

Ya, mungkin bila kita ingin mengambil beasiswa, kita harus mengubah pola berpikir kita, tidak selamanya anak yang mendapat beasiswa itu anak yang berkemampuan sangat baik. saya rasa ini saatnya kita menggunakan hati dalam memilih. jangan asal ikut program beasiswa, tapi sebelum memutuskan ikut kita harus merenungkan lagi apakah kita sasaran diadakannya program itu.


Lagipula, saya pikir akan lebih membanggakan ketika teman ibu kita bertanya "kamu kuliah dapet beasiswa ya?" dan kita menjawab "ya tante, tapi beasiswa berdasar prestasi, bukan beasiswa berdasar kemampuan finansial", dan mungkin akan lebih membanggakan lagi bila jawabanmu "ngga tante, soalnya papa-mama masih sanggup biayain aku. Beasiswanya biar temen ku aja yang ambil. Gengsi dong kalo orang mampu berebut sama orang yang kurang". Terlihat agak narsis memang, namun bukankah ketika menjawab itu ada suatu perasaan seperti derajat keluarga naik? Ya, saya juga sedang belajar membuktikannya.

Mari kita membahas hal kedua, pendidikan tinggi hanya untuk orang kaya. Saya rasa masalahnya kita lupa. Lupa ada istilah berdikari. Lupa bahwa kita tidak sendirian. Lupa bahwa hidup dengan tangan yang tidak membuka ke atas itu lebih baik. Kenapa kita tidak coba belajar dari kasus pryta, bilqis atau kasus KPK? Saat jatuh, saat itulah kita cari dukungan. Ini juga teguran bagi mereka yang menghabiskan jutaan rupiah dalam satu bulan hanya untuk nonton, belanja, atau hang out ke cafe. Bagaimana caranya? buatlah program sederhana mengena seperti program teman asuh.

Bayangkan saya dan 99 orang teman saya (nyatanya saya punya lebih dari 1000 teman di fb) menyisihkan Rp. 1000,- perhari selama satu smester, maka jika hitungan saya tidak salah, saya punya 100 x 1000 x 30 x 6 = sekitar Rp. 18.000.000,-. Bila dalam satu smester di universitas swasta orang menghabiskan dana 4-5 juta, maka kita dapat membantu sekitar 3-4 anak tidak mampu. ini baru dana sekali jalan. Bayangkan jika program ini terus berlanjut, dan dana dikelola dengan baik, seperti di tabungkan, maka saya rasa kita tidak kekurangan dana untuk teman kita yang kesulitan dana ingin kuliah. Bila 1000,- dirasa berat mulai dari 500,-. Masalahnya kita lupa menerapkan apa yang bapak Hatta sudah ajarakan kepada kita, yaitu koperasi. 

sekali lagi belajarlah dari pryta atau ibunya bilqis. jangan merasa sendirian, mintalah bantuan. atau dengan istilah lebih hebat saya mau katakan "bila kita kehilangan kesempatan, kenapa kita tidak mencoba membuat kesempatan baru". menurut saya orang indonesia masih belum kehilangan hati nurani (berapa banyak orang memenangkan program pencarian bakat dengan cara menjual kisah sedih mereka?). jangan lupa bahwa leluhur kita pernah bilang "sebatang lidi mudah dipatahkan, namun seikat lidi tidak.

Tidak perlu ramai-ramai minta pemerintah menurunkan biaya pendidikan, mereka punya banyak agenda tidak penting yang juga harus mereka urus, seperti gedung baru, kenaikan gaji, atau nonton bokep pas rapat (mahasiswa maniak pun tidak akan nonton bokep waktu acara resmi). Jangan juga cuma berdoa. Ingat pesan si joni (haha). ibu teresa (peraih nobel bidang kemanusiaan) juga sudah mengajarkan pada kita satu istilah simpel yang luar biasa "Ora et Labora", yang jika diterjemahkan dalam bahasa kita berdoa dan berusaha

Menurut saya tidak penting juga kita protes dan marah-marah di belakang (salah-salah kita dituding iri dengan mereka karena tidak mendapat beasiswa seperti mereka), kenapa tidak datang pada mereka yang mendapat beasiswa cuma-cuma dan mentololkan mereka di depan umum? memulai dari perbuatan nyata, mungkin hal ini yang belum pernah kita pikirkan. renungkanlah ini, "jika kita tidak bisa memberikan sesuatu pada mereka yang membutuhkan, saya rasa sangat bijak jika kita juga tidak mengambil sebagai gantinya".

Ingat bahwa semangat nasionalisme kita adalah kekeluargaan dan gotong royong, bukan individualis. Kita negara demokratis, kenapa tidak berjuang bersama menghadapi dunia? Yah, akhirnya ini hanya akan jadi tulisan jika tidak ada tindak lanjut, tapi minimal saya memulainya dari sini. Semoga ada yang memulainya dari tindakan nyata.

Tidak ada komentar: