Senin, 12 September 2011

mentertawakan kesedihan

tulisan ini, saya dedikasikan untuk orang yang saya sayangi, namun kini telah tiada untuk selamanya. ia pernah  menulis dalam salah satu postingan di jejaring sosialnya, "apakah saat aku tiada nanti, semua orang akan mengingatku?" dan saya rasa tidak akan ada yang dapat melupakan kenangan bersamanya. sampai kapanpun.

malam ini, saya mencoba melihat kembali track chat saya dengan adik saya, tujuan saya awalnya hanya mengobati rasa kangen saya. namun akhirnya saya mendapat satu lagi pelajaran kehidupan yang sangat berharga darinya. sebuah pelajaran yang ingin saya bagikan juga pada mereka yang sedang kesulitan, merasa sendirian, mengalami beban berat, dan tersingkirkan.

dalam track chat kami, ia mengungkapkan apa yang saat itu dia rasakan (adik saya terkena tumor dan berjuang melawannya lebih kurang 2 tahun). sontak saja yang pertama saya tanyakan adalah mengenai rutinitas obat yang ia minum dan pola hidupnya. ia berkata semua baik-baik saja. ia tidak tahu harus berbuat apa lagi.

sayaa kembali mengkonfirmasi keadaannya saat itu, saya bertanya apakah kondisinya menjadi lebih baik dari sebelumnya. ia (seakan-akan) dengan mudahnya menjawab "yah, gini-gini aja mas. hehehe." jawaban yang saat itu ditimpalinya dengan ucapan, hanya dapat pasrah pada Tuhan. singkat cerita akhirnya saya mencoba membelokkan arus pembicaraan dan memulai topik yang baru hingga akhirnya kami sama-sama off malam itu.

hal itu tidak menjadi spesial, hingga malam ini saya mendapat satu lagi kado manis darinya. setelah ia mengajarkan untuk berjuang dan berharap pada sang Pencipta, kali ini ia mengajarkan pada saya untuk mentertawakan kesedihan. apa maksudnya baru saya renungkan malam hari ini.
ya, masalah. siapapun, kapanpun, dimanapun. selama saya dan anda masih bernafas, selama itu pula masalah akan terus ada berteman dengan kita. tidak ada orang yang dapat lari dari masalah, yang ada hanyalah mereka yang menumpuknya dan membuatnya makin besar. namun bukan itu poinnya, setiap orang punya masalah, itu adalah hal yang lumrah, namun apakah setiap orang punya cara yang baik untuk menyelesaikannya? tunggu dulu, itu hal lainnya.

kali ini saya merefleksikan diri saya dari almarhum adik saya (lihat dua postingan sebelumnya). divonis tumor dan saat semua orang menyerah, ia berjuang. kami keluarganya mungkin membantu lewat doa, perawatan dan semangat, namun ia menanggung beban yang lebih berat dari perjuangan yang kami lakukan dan ketahuilah ia masih sempat meminta maaf pada saya, karena penyakitnya membuat saya harus mengorbankan waktu istirahat. permintaan maaf yang menurut saya lebih terdengar sebagai ucapan "terima kasih ya mas udah jagain aku selama ini."

kembali ke topik, ia menghadapi ini sendirian. saya mungkin tidak tahu berapa kali ia menangis dan mengeluh. saya mungkin tidak menghitung berapa kali ia meringkih kesakitan. namun saya tahu semangatnya untuk sembuh kala itu luar biasa. dan dalam penderitaannya melawan penyakitnya, ia masih dapat mentertawakan kesedihannya dan orang lain disekitarnya.

kenapa? mungkin itu juga yang anda pikirkan, dan malam ini setelah saya merenung, saya rasa saya tahu kenapa. karena masalahmu tidak akan selesai hanya karena kau menangis dan memohon. adalah benar mengeluh, menangis, dan memohon itu membuat kita makin manusia, namun hal itu tidak akan segera menyelesaikan masalahmu. bahkan hanya akan menambah masalahmu.

saya membayangkan, apabila kala itu adik saya menghadapi sakitnya dengan menangis dan menggerutu, pasti penyakitnya akan lebih cepat bertambah parah, namun ia menghadapinya dengan gembira, sebab mungkin menurutnya kala itu tidak ada bedanya bagi sakit yang dialaminya jika ia menghadapinya dengan tangis atau tawa, hanya saja tawa lebih menyenangkan daripada tangis, jadi kenapa harus menghadapinya dengan tangisan.

ya, banyak perkara, sekali lagi banyak perkara yang mungkin tidak dapat kita selesaikan. namun sekali lagi itu bukan alasan untuk menghadapinya dengan tangisan. bila masalah muncul dan kau menggerutu, apakah masalahmu akan selesai atau berlalu? mungkin hanya akan memperparah apa yang kau rasakan. namun bila kau menghadapinya dengan lebih gembira, menurut saya masalah itu akan terasa lebih ringan.

bagaimana caranya? ya, saya seringkali menggerutu pada masalah saya sebab saya merasa tidak ada orang lain yang tahu bagaimana saya hadapi masalah saya, dan itu membuat saya memperparah keadaan. masalah sudah rumit, saya menggerutu, tidak mengerjakannya dengan tulus, akhirnya hasilnya berantakan, dan ya, yang saya dapat hanya celaan dari apa yang saya buat.

hal praktis yang bisa kita lakukan adalah mencoba menyadari bahwa disamping kanan dan kiri kita ada orang-orang yang juga mengalami hal yang sama dengan kita. di belakang kita ada mereka yang (entah secara nyata atau tidak) mau memahami dan mendorong kita. di depan kita ada mereka yang pernah mengalami masalah yang sama yang siap untuk mengajari kita. begitu banyak bantuan, tidakkah itu membuatmu seharusnya lebih bahagia? mungkin masalahnya kita terlalu banyak menggerutu sehingga bantuan itu tidak kita dapatkan. mungkin masalahnya kita terlalu lama menutup mata dan telinga kita.

saya sudah berusaha, namun saya tidak menemukan siapapun untuk membantu saya. dan bila ini jawabanmu, maka mungkin ada satu hal yang kau lupa. dari atas ada Dia yang siap mendengar keluhanmu, menampung amarahmu, dan memberimu pertolongan. siapapun kau, apapun kepercayaanmu, bagaimanapun kau menyebut-Nya.

sekali lagi, esensi dari mentertawakan kesedihan adalah melihat masalah dari sudut pandang yang lebih positif. hal ini akan membuat kita melaluinya dengan lebih enjoy. bila kau tahu masalahmu tidak akan selesai hanya dengan tawa atau tangis, maka mengapa kau tidak memilih tawa dan menjalaninya dengan hati gembira? saya belajar banyak dari almarhum adik saya, dan saya harap saya dapat membagikan semangatnya pada tiap orang yang membaca ini.

-untuk apa kau mencintai mereka yang sudah tiada? sebab mereka yang sudah tiada telah menerima cinta yang luar biasa dari-Nya disana. cintailah mereka yang masih hidup, terutama mereka yang hidup tanpa cinta-

Tidak ada komentar: