Senin, 17 Oktober 2011

ingatlah kau masih punya satu tanggung jawab

mungkin ini kebiasaan orang indonesia secara umum, namun sampai sekarang saya masih berharap pernyataan saya salah. saya akan menceritakan pengalaman saya berdinamika dalam organisasi.

saya adalah salah seorang anggota organisasi tersebut. menyenangkan bagi saya bisa terlibat dan memberikan sesuatu bagi organisasi ini. tidak terkecuali ketika saya harus terlibat dalam rekrutmen dan training organisasi ini. menyenangkan melihat orang-orang memiliki semangat dan motivasi sendiri untuk bergabung dengan organisasi ini.

jawaban yang mereka berikan saat ditanya "apakah kamu akan berkomitmen pada organisasi?" adalah "ya" atau "pasti" dan ditanya mengapa, mereka pasti akan menjawab alasan yang baik mengenai organisasi. dan atas jawaban-jawaban juga kinerja mereka sebelum diterima, sebagai reward mereka berhak atas satu kursi keanggotaan dan berhak ikut berdinamika didalamnya. kursi keanggotaan semacam tahta penuh gengsi, tapi sekali lagi dibalik kekuatan yang besar muncul tanggung jawab besar pula.

organisasi berjalan dan menurut saya ironis mengatakan ini, tapi kenyataan memang tidak selalu sama dengan mimpi. setelah mengikuti rutinitas satu per satu mundur, seorang demi seorang sibuk dengan dunianya dan mereka tidak mau atau mungkin sengaja tidak mau tahu dengan organisasi. sangat disayangkan hal ini terjadi melihat apa yang telah mereka lakukan sebelum bergabung.

organisasi bertahan dengan anggota yang acuh tak acuh sama seperti orang yang hidup namun tidak menghidupi hidupnya. masalah datang, satu, dua, dan bertambah besar. saat masalah bertambah besar salah seorang anggota mengeluh dan mengungkapkan permohonannya. permohonan ini didengar teman-temannya dan mereka menyatakan berbagai hal, menanyakan kok bisa, mengkonfirmasi, sampai memberi saran bodoh.

saya kira, apakah memang harus seperti ini? dalam artian apakah sikap peduli baru muncul ketika ada yang meminta tolong dengan embel-embel keadaan yang parah? ini bukan masalah seberapa besar pertolongan, tapi seberapa peduli. kemana mereka sebelumnya? saya pun mulai mempertanyakan tentang kohesivitas kelompok. kekompakan didalam yang benar-benar mengakar yang tidak dapat digoyahkan ternyata memberikan dampak negatif pada organisasi lain.

akhirnya saya jadi "agak" setuju dengan salah satu mantan anggota yang lebih memilih pergi (walaupun kepergiannya menyebabkan banyak kontraversi), tapi itu lebih jelas daripada masih menyandang keanggotaan namun tidak tahu apa-apa didalam organisasi.

menurut saya benar organisasi tidak boleh mengekang anggotanya untuk berkembang di luar. organisasi seyogyanya malah harus menstimulasi agar tiap anggotanya dapat mengaktualisasikan diri. tapi apakah dibenarkan jika dengan alasan kegiatan lain organisasi jadi korbannya? bukankah akhirnya itu jadi tidak fair?

saya sendiri merasa belum banyak berbuat. saya sendiri merasa masih punya banyak kesalahan yang tidak membuat organisasi maju, tapi saya tidak mau lepas tangan begitu saja. saya memilih bergabung dengan organisasi ini, tahu konsekuensinya dan harus berdinamika didalamnya sampai batas waktunya. dan saya mencoba menjalani itu.

yang saya khawatirkan adalah keadaan organisasi ini justru setelah saya dan kawan-kawan saya meninggalkan organisasi ini. jujur saya senang waktu saya di organisasi tinggal sebentar lagi, namun saya juga sedih karena nampaknya saya tidak menurunkan apa yang baik pada generasi setelah saya. semoga mereka sanggup menghidupi dan menjalankan organisasi dengan lebih baik.

akhirnya saya hanya berpesan pada semua orang yang sempat membaca ini sampai selesai, sebelum memutuskan ingatlah bahwa tiap keputusan akan hasilkan konsekuensi. bila sudah memilih, coba jalani dengan jujur. miliki banyak kegiatan sehingga punya banyak pengalaman, namun jangan sampai kegiatan yang satu merusak dinamika lainnya. saya rasa akan jadi tidak fair untuk yang dirusak. bila tidak sanggup jangan melanjutkan, bukankan semua pilihan ada ditanganmu? pilihlah dan jalani dengan bijak.

Sabtu, 15 Oktober 2011

3 hal

seorang pria berdiri menunggu di malam dingin itu. ia menunggu seseorang yang sudah menutup pintu hatinya. ia menanti orang itu sekalipun ia sadar kunci untuk membuka pintu yang ia tunggui itu telah patah dan tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi.

lama ia mengunggu. lama ia berdiri terpaku. malam makin dingin dan hujan menusuk menambah pilu malam itu. dengan sisa-sisa tenaganya ia coba katakan sesuatu. tertatih ia berkata, "tahu kah kau bahwa ada 3 hal menyakitkan yang akan kau rasakan saat kau menjalani hidup ini. pertama kau akan menunggu untuk ditinggalkan selamanya, kedua kau memutuskan untuk memilih dan kemudian dicampakkan dan tidak diberi alasan, terakhir kau berjalan merasakan semua yang indah untuk kemudian kau sadar kau gagal dan tersesat terlampau jauh."

dia terdiam menyeka air matanya yang berbaur dengan dinginnya hujan. kemudian ia melanjutkan ucapannya, katanya "aku telah merasakan semuanya. aku telah menerima semuanya. dan ketahuilah aku jatuh tertatih sekarang. namun ada satu hal yang harus kau ketahui bahwa aku tidak pernah menyesal. kau tahu kenapa? sebab selama hatiku masih bisa mencintai, aku masih mau berusaha untuk mencintai."

dia melanjutkan "aku sadar bahwa waktu tidak dapat diputar. aku pun sadar kita tidak dapat menghalangi apapun yang seharusnya terjadi. aku hanya manusia. aku-pun sedih saat itu, saat aku tidak dapat berbuat apapun dan saat aku sadar tindakan bodoh ku tak dapat ku ulang. aku mungkin menghilang tapi aku tidak pernah mau mengalihkan pandanganku dari hatimu, setidaknya sekeping hatiku masih milikmu."

"kau tahu mengapa? bukan karena kau segala-galanya, namun karena kau memberi warna dalam hidupku. ketahuilah, mungkin hal itu tidak luar biasa, namun hal itu lebih dari segalanya. aku berjalan terus ke depan, namun sesekali aku menoleh ke belakang untuk mengenang bagaimana dirimu. tahukah kau akan hal itu?" begitu katanya.

ia berlutut kepayahan sebab sudah habis tenaganya. dalam sisa-sisa terakhir tenaganya ia berkata "siapakah yang paling aku sesali? bukan dirimu sebab kita telah bertemu. bukan waktu yang membuat kita terpisah. bukan keadaan yang mempermainkan cinta. tapi diriku.. diriku.. karena aku tidak punya hati yang cukup besar untuk memaafkan semuanya. dan aku tidak punya hati yang cukup lapang untuk merelakanmu."

dia melanjutkan, "namun itulah hidup. aku tetap bahagia menjalaninya. bahwa sakit ini adalah bagian dari diriku, akan tetap kusimpan dan kuingat. agar aku sadar bahwa cinta adalah pedang bermata dua. bahwa kau harus berkorban untuk mendapat. bahwa kau tidak dapat memiliki semua yang kau cinta dan kau harus belajar mencinta apa yang kau miliki. dan terima kasih untuk semua."

dengan sisa-sisa tenaganya pemuda itu, di malam itu menyatakan penyesalannya. mungkin tidak pernah didengar olehnya yang ia tunggu, namun ia lega telah katakan segala hal yang ganjal hatinya.

bila kau harus merasakan sakit atas apa yang kau pilih, maka jalanilah sebab itulah konsekuensi yang harus kau ambil. bila kau masih mau untuk berlari, larilah sekalipun kakimu memberat, sebab ketika kau berhenti kau telah menyerah pada keadaan.
bila kau sadar dirimu dan bodohmu sebabkan sesalmu, maka mungkin kau hanya perlu jalan terus ke depan. jalanlah dengan sisa-sisa kenangan indah di masa lalumu, namun lihatlah pula bagaimana lalumu untuk ingatkan siapa engkau sebelumnya.
bila kau terjebak dalam keadaan yang memaksamu menyerah, mungkin itu bukan karena orang lain. mungkin masalahnya ada pada dirimu. maafkanlah yang lain, mungkin inilah saatnya kau harus menyerah. cobalah untuk cintai yang masih kau miliki, dan perbaiki dirimu.

sebab cinta dapat menghidupkan, namun juga mematikan. cinta dapat memberi bahagia, namun juga mengecewakan. cinta dapat menyembuhkan, namun juga melukai. cinta dapat memberi, namun juga mengambil. cinta ada untuk dihidupi, namun belajarlah untuk menyangkalnya.

Kamis, 06 Oktober 2011

Ketulusan vs Ambisi

ada sesuatu yang lucu saya lihat pada perilaku beberapa orang yang mencalonkan diri sebagai presiden Badan Eksekutif Mahasiswa tempat saya kuliah. mungkin terlihat lucu bagi saya sebab (ini juga yang saya sayangkan) mereka menggunakan topengnya saat mengadakan orasi dan parahnya menurut kabar yang saya dengar, saat debat calon mereka makin marak menggunakan topengnya.

ya, hal yang cukup lucu  untuk saya adalah saat sesi tanya jawab setelah mereka memaparkan visi dan misinya. pertanyaan yang diberikan (menurut saya tidak penting juga ditanyakan saat itu) menyangkut masalah prodi dengan pihak universitas pada periode kepemimpinan sebelumnya. anehnya (dan ini menunjukkan betapa besar mereka mencoba mencari simpati) mereka menjawab apa yang mereka telah lakukan saat itu dan berjanji akan menyelesaikan masalah yang ada (menurut saya hal ini bukan masalah lagi, sebab sudah ada penyelesaian).

pertanyaan lain (harusnya bila salah satu dari mereka membaca ini mereka mencoba kembali merefleksikan jawaban mereka) yang menggelitik mengenai apakah mereka melakukan pencitraan. mereka menjawab bahwa mereka tidak melakukannya, namun apakah benar-benar iya? apakah menjadi lebih sering terlihat di muka publik, mengomentari kegiatan dan orasi sesama mahasiswa, atau lebih (sok) akrab dari biasa merupakan bagian dari pencitraan? yah, saya harap hasil tes kepribadian mereka (jika di tes) tidak menunjukkan kecenderungan agresi, eksibisionis, dan acheivement tinggi bersamaan.

akhirnya saya mencoba merenung. apakah mereka mengajukan diri atas dasar ketulusan atau ambisi, atau mungkin karena tidak ada lagi orang baik di dunia ini atau minimal di kampus yang mampu dan mau untuk mengajukan diri? menurut saya sangat sayang bila hal kecil ini disia-siakan dengan perilaku yang kurang terpuji.

akhirnya saya tahu kenapa pemimpin negara ini hanya bisa omong doang. sebab sejak dari mahasiswa saja (mungkin) mereka melakukan hal seperti diatas. pencitraan tanpa kenyataan atau menghilang tanpa bukti konkret sudah menjadi bagian dari kita. pertanyaannya apakah kita akan meneruskan hal itu?

salah seorang calon mengatakan mengenai pemuda sebagai pelopor, namun sekali lagi apakah dia berkata seperti itu karena tulus dan meresapi hal itu atau hanya karena suasana dan keadaan itu adalah saat pemilu? yah akhirnya saya mau bertanya pada orang itu sebenarnya apakah anda sudah jadi pelopor yang dimaksud itu? maksud saya sebelum mencalonkan diri apa yang sudah dilakukan olehnya.

saya tidak mau menyudutkan satu atau pihak tertentu saja, saya mau tulisan kali ini menjadi perenungan untuk kita. bahwa untuk melakukan sesuatu ambisi mungkin penting karena "without desire" kau tidak lebih dari seorang pemimpi yang tidak siap bekerja, namun ambisi saja tidak cukup. orang yang berambisi hanya akan menjadi koruptor-koruptor (sekalipun mungkin skala yang dikorupsi berbeda). milikilah ketulusan, bahwa apa yang akan dilakukan nanti akan sangat sulit dan menjemukan, namun itu bukan alasan untuk menyerah dan cuci tangan.

semoga para calon yang berlaga membaca dan mencamkan suara rakyat ini.