Kamis, 06 Oktober 2011

Ketulusan vs Ambisi

ada sesuatu yang lucu saya lihat pada perilaku beberapa orang yang mencalonkan diri sebagai presiden Badan Eksekutif Mahasiswa tempat saya kuliah. mungkin terlihat lucu bagi saya sebab (ini juga yang saya sayangkan) mereka menggunakan topengnya saat mengadakan orasi dan parahnya menurut kabar yang saya dengar, saat debat calon mereka makin marak menggunakan topengnya.

ya, hal yang cukup lucu  untuk saya adalah saat sesi tanya jawab setelah mereka memaparkan visi dan misinya. pertanyaan yang diberikan (menurut saya tidak penting juga ditanyakan saat itu) menyangkut masalah prodi dengan pihak universitas pada periode kepemimpinan sebelumnya. anehnya (dan ini menunjukkan betapa besar mereka mencoba mencari simpati) mereka menjawab apa yang mereka telah lakukan saat itu dan berjanji akan menyelesaikan masalah yang ada (menurut saya hal ini bukan masalah lagi, sebab sudah ada penyelesaian).

pertanyaan lain (harusnya bila salah satu dari mereka membaca ini mereka mencoba kembali merefleksikan jawaban mereka) yang menggelitik mengenai apakah mereka melakukan pencitraan. mereka menjawab bahwa mereka tidak melakukannya, namun apakah benar-benar iya? apakah menjadi lebih sering terlihat di muka publik, mengomentari kegiatan dan orasi sesama mahasiswa, atau lebih (sok) akrab dari biasa merupakan bagian dari pencitraan? yah, saya harap hasil tes kepribadian mereka (jika di tes) tidak menunjukkan kecenderungan agresi, eksibisionis, dan acheivement tinggi bersamaan.

akhirnya saya mencoba merenung. apakah mereka mengajukan diri atas dasar ketulusan atau ambisi, atau mungkin karena tidak ada lagi orang baik di dunia ini atau minimal di kampus yang mampu dan mau untuk mengajukan diri? menurut saya sangat sayang bila hal kecil ini disia-siakan dengan perilaku yang kurang terpuji.

akhirnya saya tahu kenapa pemimpin negara ini hanya bisa omong doang. sebab sejak dari mahasiswa saja (mungkin) mereka melakukan hal seperti diatas. pencitraan tanpa kenyataan atau menghilang tanpa bukti konkret sudah menjadi bagian dari kita. pertanyaannya apakah kita akan meneruskan hal itu?

salah seorang calon mengatakan mengenai pemuda sebagai pelopor, namun sekali lagi apakah dia berkata seperti itu karena tulus dan meresapi hal itu atau hanya karena suasana dan keadaan itu adalah saat pemilu? yah akhirnya saya mau bertanya pada orang itu sebenarnya apakah anda sudah jadi pelopor yang dimaksud itu? maksud saya sebelum mencalonkan diri apa yang sudah dilakukan olehnya.

saya tidak mau menyudutkan satu atau pihak tertentu saja, saya mau tulisan kali ini menjadi perenungan untuk kita. bahwa untuk melakukan sesuatu ambisi mungkin penting karena "without desire" kau tidak lebih dari seorang pemimpi yang tidak siap bekerja, namun ambisi saja tidak cukup. orang yang berambisi hanya akan menjadi koruptor-koruptor (sekalipun mungkin skala yang dikorupsi berbeda). milikilah ketulusan, bahwa apa yang akan dilakukan nanti akan sangat sulit dan menjemukan, namun itu bukan alasan untuk menyerah dan cuci tangan.

semoga para calon yang berlaga membaca dan mencamkan suara rakyat ini. 

Tidak ada komentar: