Senin, 28 November 2011

memaknai cinta

tersebutlah seorang raja yang terkenal sangat bijaksana. satu hari, seorang pemuda menanyakan satu hal untuk mencobainya. katanya pada sang raja "tuanku, tuanku terkenal sangat bijaksana. banyak orang yang mengagumi anda akan kebijaksanaan anda, maka dari itu hamba datang untuk menanyakan apa yang selama ini menjadi pergumulan hamba."

sang raja menjawab, "baiklah, coba katakan apa yang kau ingin ketahui dariku." sang pemuda berkata menimpali pertanyaan raja, katanya "hamba melihat banyak orang tersesat. bukan dalam perjalanannya menuju satu tempat, namun tersesat dalam perasaannya. perasaan itu disebut cinta. apakah paduka tahu bagaimana memetakan cinta agar banyak orang tidak lagi  tersesat?"

si raja diam sejenak, melihat ke sekelilingnya. setelah beberapa saat senyum mengembang dari wajahnya. saat itu juga ia mengatakan pada si pemuda, katanya "baiklah, besok pagi-pagi sekali sebelum semua orang terjaga, datanglah ke atas bukit, duduklah di tempat paling lapang yang kau temui disana. jangan lakukan apapun kecuali duduk dan memandang sekelilingmu. kembalilah kesini saat semua orang terlelap dan ceritakan apa yang kau temukan disana, maka aku akan memberimu jawab saat itu."

maka sang pemuda datang ke tempat itu sesuai perintah raja. ia duduk sepanjang hari itu mulai dari pagi buta ketika semua orang belum terjaga hingga saat semua orang sudah terlelap. ia duduk menahan haus dan laparnya, menahan rasa kesemutan dan bosannya, dan ketika waktu yang ditentukan sudah habis ia datang kembali pada raja.

kata sang pemuda pada raja "tuanku, sebelumnya hamba datang dengan membawa satu pertanyaan, namun sekarang saya membawa dua pergumulan. pertama mengapa tuanku mengharuskan saya duduk di tempat itu dan yang kedua apa hubungannya dengan pertanyaan saya? sebab saya merasa apa yang saya lakukan tidak menjawab apapun."

sang raja berkata pelan, "sebelumnya mari makan denganku. sebab aku tahu kau sangat kelaparan."

sesampainya di ruang makan, sambil menyantap makanan yang enak sang raja berkata, "ceritakan apa yang kau lihat dan alami." sang pemuda makin penuh dengan pertanyaan dalam batinnya dan ia menceritakan apa yang dilihatnya disana katanya, "tempat yang hamba datangi  sangat mengerikan di saat malam, seakan-akan hamba adalah makhluk lemah dan sesuatu yang buruk akan menimpa hamba. sebelum sang surya terbit hamba sempat ingin beranjak, namun akhirnya hamba urungkan niat itu dan tetap bertahan."

"baiklah, apa yang terjadi kemudian?" tanya sang raja. "ya, mentari akhirnya terbit dan tempat itu menjadi sangat indah. hangatnya mentari menggantikan dinginnya malam. saat itu juga hamba tidak ingin beranjak dan berpikir untuk bertahan selama mungkin. semuanya menjadi menyenangkan saat itu. seandainya paduka ada disana dan menikmatinya"

"apakah hanya itu yang kau dapatkan?" lanjut sang raja. sang pemuda makin semangat bercerita katanya "belum paduka, hamba belum selesai. itu baru awal dari apa yang hamba lihat dan rasakan. tantangan terberat hadir di jam-jam berikutnya. lapar, lelah, dahaga, dan terik menyengat adalah tantangan yang hamba rasakan. lihat paduka kulit hamba terbakar matahari. seharian hamba belum makan sehingga rasanya amat lemas sekarang, mohon maaf jika hamba terlihat serakah."

"hahahahaha.. tidak apa-apa. apakah ada lagi yang kau lihat?" sang raja melanjutkan sambil menyeruput anggur merah dari cawannya. "ya raja, sore menjelang dan semua menjadi gelap, segelap sebelumnya. suasana mencekam kembali saya rasakan. namun ada hal berbeda saat malam datang, bulan yang penuh cahaya seakan menerangi saya. itulah hingga akhirnya saya sampai kemari." begitulah sang pemuda menceritakan akhir pengalamannya.

"baiklah, kini giliranku menjawab pertanyaanmu. dengarkan jawabanku sembari kau selesaikan makanmu." begitu kata sang raja. ia mengambil nafas sejenak dan mulai bercerita, katanya "kau tahu apa yang kau dapati hari ini adalah siklus cinta. keadaan ketika semua orang terlelap adalah keadaan ketika kau belum menemukan apa itu cinta. kau merasa sendirian dan semua hal menakutkan bagimu. mentari pagi adalah ketika kau menemukan cinta dan cintamu berbalas, semuanya menyenangkan. seakan dunia ini adalah tempat yang paling indah. kau tak berpikir untuk memalingkan muka. kau merasa kuat dan ingin bertahan. saat kau merasakan teriknya matahari itulah ketika kau merasakan kebosanan dalam hubunganmu, kau mulai lelah, kau mulai haus akan kasih sayang seakan semuanya sudah mati sekarang. hal yang lebih menyakitkan kadang orang yang kau cinta menyakitimu dan menyebabkan dirimu terluka. ketika senja datang dan malam menyelimuti tempatmu berdiam adalah ketika cinta itu berlalu daripadamu semuanya kembali gelap dan menakutkan, dan bagian terburuknya bukan hanya itu. cintamu mentertawaimu dari tempat lain dan meninggalkan dirimu sendirian, seperti cahaya bulan yang kau rasakan. terang namun tidak menghangatkan."

sang pemuda menanggapi raja katanya "hamba mengerti sekarang, namun adakah cara menghindari itu semua paduka?" sang raja menjawab "kau hanya perlu menjalaninya dengan jujur. cinta adalah satu hal yang bebas. ketika ia datang sambutlah dengan segenap hatimu. ia tumbuh dalammu, maka rawat ia jadikan ia makin baik hari ke hari, dan ketika ia putuskan untuk beranjak darimu bukanlah hak mu untuk menahannya, sebab ketika kau menahan cinta, maka kau hanya akan membuat luka  dalam hatimu sendiri."

sang pemuda beranjak dari tempatnya dan pamit pada raja. sebelum ia meninggalkan tempat itu raja mengatakan satu hal lagi, "hai pemuda, tahukah kau kenapa kulitmu terbakar dan kau merasa lapar?" sang pemuda menjawab "ya paduka, sebab hamba hanya duduk diam tanpa berbuat apa-apa." sang raja tersenyum dan mengatakan, "maka kini kau tahu bagaimana seharusnya menjalani cinta, jangan hanya tinggal diam, namun berbuatlah. jangan hanya tertegun pada satu tempat, namun kau harus melakukan apa yang perlu kau perbuat. jalani cinta dengan dinamis, sebab cinta selalu berubah."

begitulah pengalaman sang pemuda dalam memaknai cintanya saat ini. kau tidak akan tersesat jika kau tahu bagaimana memaknai cinta. selamat mencoba.


Minggu, 27 November 2011

belajar humanistik dari seorang aa' burjo

tahu kenapa burjo (warung yang menyediakan nasi, mie, dan bubur. biasanya di jaga oleh orang sunda. red) selalu bertahan di lingkungan kampus (bandingkan dengan rumah makan lain yang paling banter hanya bertahan 1-2 tahun)? karena selain harga hidangan yang nyaman di kantong, ternyata para pekerjanya menerapkan sistem kerja berbasis humanistik. saya pikir ada baiknya kita menilik bagaimana mereka bekerja, terlebih lagi jika mau bergerak di bidang konseling, psikologi, atau HRD.

pertama kali masuk ke burjo, entah kita pelanggan lama atau orang yang baru pertama kali datang senyum hangat dan sapaan kecil selalu terlontar untuk menyambut. ketahuilah, individu merasa dimanusiakan bukan ketika mendapatkan segala sesuatu yang serba wah, tapi ketika apa yang disajikan dihadapannya dimulai dari senyum dan ketulusan. mana yang lebih anda pilih, pergi ke dokter yang memfonis anda tanpa basa-basi atau ke dukun yang mau mendengarkan keluhan anda dulu? mungkin inilah yang menyebabkan kenapa orang indonesia lebih senang berobat ke pengobatan alternatif (lebih humanis dan ekonomis).

kedua, menanggapi pesanan sekalipun hanya sebatang rokok atau satu potong gorengan dengan serius. ya, ini juga yang menjadi ciri burjo. kita tidak pernah diusir hanya karena numpang duduk dan hanya memesan hal-hal sepele. satu kali saya pernah datang ke burjo, pelanggan datang memesan es teh dan duduk lama berbincang dengan temannya, jika saya yang punya warung mungkin sudah saya usir orang itu (bikin rejeki ga mau dateng), tapi justru disini bedanya. kita tetap dilayani dan disambut. ya mungkin ini yang juga harus kita perhatikan jika nanti mau ngurusin masalah orang, bahwa kadang apa yang mereka alami bukan masalah yang pelik. bahwa mungkin hanya masalah sepele, tapi ketika kita mau menerima dan menanggapi dengan serius saya yakin mereka akan merasa dihargai dan diterima.

ketiga, interaksi. aa' burjo dimanapun yang saya pernah masuki warungnya selalu interakif. mau membaur dan bergabung dalam obrolan pelanggannya. kadang jika ada pelanggan yang datang sendirian dan tidak punya teman ngobrol, merekalah yang mencoba memulai obrolan. hal ini benar-benar menyentuh saya, jika nanti saya jadi therapis saya harus seperti salah satu dari mereka. maksudnya mau tulus membantu orang (sekalipun  mungkin maksud mereka bukan membantu orang sih).

dan yang terakhir burjo available for 24 hours. 7 hari seminggu, 24 jam sehari. hal inilah yang harusnya kita contoh. bahwa sebagai seorang yang humanis dan menyatakan diri humanis, segala kemungkinan bisa menyapa kita. apakah anda tega membiarkan orang yang datang tengah malam dengan keluhan berat? ya jika anda tolak mereka maka saya rasa anda tidak cukup menerapkan sisi humanis anda.

hal inilah yang membuat burjo menjadi tempat yang hommy. saran saya, jika satu hari nanti anda melakukan pekerjaan yang memungkinkan anda bertatap muka dengan banyak orang, maka contohlah aa' burjo. maka saya yakin banyak orang yang akan datang kembali dan kembali lagi pada anda. selamat menjadi humanis!!

Kamis, 17 November 2011

sisi lain

Mungkin salah satu dari hal yang akan saya sebutkan dibawah ini adalah keluhan-keluhan yang kita lontarkan setiap hari (paling tidak beberapa diantaranya pernah saya lakukan).

Kepada orang tua
Kenapa sih papa-mama ku selalu saja menuntutku? Ga boleh keluyuran lah, ga boleh bolos sekolah lah, harus jaga adik lah, harus ngerjain PR sampe bener lah.. ga tau apa jadi anak jaman sekaran susah? Emang enak jadi orang tua, bisanya Cuma ngatur.

Hari ini saya menjadi mahasiswa rantau, dan saya mengerti betapa pentingnya sekolah itu, betapa susahnya mengatur diri sendiri, dan jujur kadang saya rindu diatur oleh orang tua, diingatkan, dan dipaksa melakukan suatu hal. Sisi baiknya, saya terbiasa untuk menjadi lebih baik.

Kepada orang yang lebih tinggi posisinya
Dia mah enak Cuma bisa nyuruh tok. Yang harus njalanin itu yang ga enak. Emang siapa dia ngatur aja? Apa dia pikir gw bawahan yang seenaknya bisa diatur sama dia? Berani bayar berapa dia? Apa gw pura-pura sakit aja ya biar ga ketemu dia?

Hari ini saya merasakan betapa susahnya mengatur orang. Kadang apa yang kita sampaikan bisa dipersepsi lain oleh mereka. tidak hanya itu, menjadi orang  diatas berarti memegang tanggung jawab besar. Tuntutan dari atasan dan cercaan dari bawah adalah hal yang tidak mengenakkan, maka kalau boleh jujur kadang saya mau jadi orang yang ada di bawah lagi.

Kepada orang yang memegang otoritas
Dia itu ga tau ya kepentingan kita? Masak dana segini aja ga disetujuin? Bisa kerja becus ga sih? Kalo ga mending turun aja. Apa perlu di demo biar turun sekalian? Ini tu juga penting buat kita tapi ga ditanggepin positif. Huh, apa-apaan tuh!!

Saya belum pernah memegang otoritas yang sangat tinggi jadi saya tidak bisa membagikan pengalaman saya, namun yang saya ingin bagikan disini seandainya anda ditunjuk jadi orang yang memegan otoritas tinggi itu, apakah anda yakin dapat melakukan pilihan yang baik untuk semua pihak? Saya belajar satu hal, ketika satu pilihan diambil, maka akan ada hal yang dikorbankan. Intinya tidak semua bisa diuntungkan.

Seorang anak tidak akan mengerti bagaimana sulitnya menjadi seorang ayah sampai ia punya anak dan tahu bagaimana sulitnya mengasuh seorang anak. Mungkin kalimat ini yang perlu kita pahami dan resapi. Bahwa kenapa saat ini kita mengeluh, sebabnya kita terlalu egois untuk coba memandang dari sisi yang lain. Buka pandangan dan galilah, maka kita akan sadari menjadi orang yang kita sindir atau cemooh tidak semudah yang kita bayangkan.

Satu hari saat menyusun rencana studi, beberapa teman komplain pada dosen pembibimbing akademik mengenai jadwal kuliah yang dinilai (saya juga merasa demikian) over load. Saya agak lupa bagaimana dosen saya menjawab pertanyaan dan komentar yang terucap, namun intinya beliau menerangkan mengenai kesetiaan dalam menjalani sesuatu sekalipun apa yang dilakukan bukan keinginan kita.

Dari sini saya ingin membagikan satu hal kecil yang saya harap bisa dimaknai lebih besar, ketika kita mau mencoba, kita akan dapat memahami. Saat mulai paham, kita akan mengulangi. Dari proses berulang kita akan menghafalkan. Saat semuanya sudah ada di kepala kita, segala sesuatu akan terlihat mudah bagi kita, namun demikian hal yang terpenting dari semuanya adalah memulai dengan merendahkan diri, mencoba melangkah tanpa mengeluh terlebih dahulu.

-ketika kita belajar melakukan sesuatu, proses dalamnya adalah hal yang sangat tidak mengenakkan. Namun ketika kita berhasil melewatinya dan lulus, maka semua hal tidak mengenakan itu akan terbayar- sebuah refleksi singkat dari pengalaman bapak Agung Santoso ketika belajar di amerika.