Minggu, 27 November 2011

belajar humanistik dari seorang aa' burjo

tahu kenapa burjo (warung yang menyediakan nasi, mie, dan bubur. biasanya di jaga oleh orang sunda. red) selalu bertahan di lingkungan kampus (bandingkan dengan rumah makan lain yang paling banter hanya bertahan 1-2 tahun)? karena selain harga hidangan yang nyaman di kantong, ternyata para pekerjanya menerapkan sistem kerja berbasis humanistik. saya pikir ada baiknya kita menilik bagaimana mereka bekerja, terlebih lagi jika mau bergerak di bidang konseling, psikologi, atau HRD.

pertama kali masuk ke burjo, entah kita pelanggan lama atau orang yang baru pertama kali datang senyum hangat dan sapaan kecil selalu terlontar untuk menyambut. ketahuilah, individu merasa dimanusiakan bukan ketika mendapatkan segala sesuatu yang serba wah, tapi ketika apa yang disajikan dihadapannya dimulai dari senyum dan ketulusan. mana yang lebih anda pilih, pergi ke dokter yang memfonis anda tanpa basa-basi atau ke dukun yang mau mendengarkan keluhan anda dulu? mungkin inilah yang menyebabkan kenapa orang indonesia lebih senang berobat ke pengobatan alternatif (lebih humanis dan ekonomis).

kedua, menanggapi pesanan sekalipun hanya sebatang rokok atau satu potong gorengan dengan serius. ya, ini juga yang menjadi ciri burjo. kita tidak pernah diusir hanya karena numpang duduk dan hanya memesan hal-hal sepele. satu kali saya pernah datang ke burjo, pelanggan datang memesan es teh dan duduk lama berbincang dengan temannya, jika saya yang punya warung mungkin sudah saya usir orang itu (bikin rejeki ga mau dateng), tapi justru disini bedanya. kita tetap dilayani dan disambut. ya mungkin ini yang juga harus kita perhatikan jika nanti mau ngurusin masalah orang, bahwa kadang apa yang mereka alami bukan masalah yang pelik. bahwa mungkin hanya masalah sepele, tapi ketika kita mau menerima dan menanggapi dengan serius saya yakin mereka akan merasa dihargai dan diterima.

ketiga, interaksi. aa' burjo dimanapun yang saya pernah masuki warungnya selalu interakif. mau membaur dan bergabung dalam obrolan pelanggannya. kadang jika ada pelanggan yang datang sendirian dan tidak punya teman ngobrol, merekalah yang mencoba memulai obrolan. hal ini benar-benar menyentuh saya, jika nanti saya jadi therapis saya harus seperti salah satu dari mereka. maksudnya mau tulus membantu orang (sekalipun  mungkin maksud mereka bukan membantu orang sih).

dan yang terakhir burjo available for 24 hours. 7 hari seminggu, 24 jam sehari. hal inilah yang harusnya kita contoh. bahwa sebagai seorang yang humanis dan menyatakan diri humanis, segala kemungkinan bisa menyapa kita. apakah anda tega membiarkan orang yang datang tengah malam dengan keluhan berat? ya jika anda tolak mereka maka saya rasa anda tidak cukup menerapkan sisi humanis anda.

hal inilah yang membuat burjo menjadi tempat yang hommy. saran saya, jika satu hari nanti anda melakukan pekerjaan yang memungkinkan anda bertatap muka dengan banyak orang, maka contohlah aa' burjo. maka saya yakin banyak orang yang akan datang kembali dan kembali lagi pada anda. selamat menjadi humanis!!

Tidak ada komentar: