Kamis, 17 November 2011

sisi lain

Mungkin salah satu dari hal yang akan saya sebutkan dibawah ini adalah keluhan-keluhan yang kita lontarkan setiap hari (paling tidak beberapa diantaranya pernah saya lakukan).

Kepada orang tua
Kenapa sih papa-mama ku selalu saja menuntutku? Ga boleh keluyuran lah, ga boleh bolos sekolah lah, harus jaga adik lah, harus ngerjain PR sampe bener lah.. ga tau apa jadi anak jaman sekaran susah? Emang enak jadi orang tua, bisanya Cuma ngatur.

Hari ini saya menjadi mahasiswa rantau, dan saya mengerti betapa pentingnya sekolah itu, betapa susahnya mengatur diri sendiri, dan jujur kadang saya rindu diatur oleh orang tua, diingatkan, dan dipaksa melakukan suatu hal. Sisi baiknya, saya terbiasa untuk menjadi lebih baik.

Kepada orang yang lebih tinggi posisinya
Dia mah enak Cuma bisa nyuruh tok. Yang harus njalanin itu yang ga enak. Emang siapa dia ngatur aja? Apa dia pikir gw bawahan yang seenaknya bisa diatur sama dia? Berani bayar berapa dia? Apa gw pura-pura sakit aja ya biar ga ketemu dia?

Hari ini saya merasakan betapa susahnya mengatur orang. Kadang apa yang kita sampaikan bisa dipersepsi lain oleh mereka. tidak hanya itu, menjadi orang  diatas berarti memegang tanggung jawab besar. Tuntutan dari atasan dan cercaan dari bawah adalah hal yang tidak mengenakkan, maka kalau boleh jujur kadang saya mau jadi orang yang ada di bawah lagi.

Kepada orang yang memegang otoritas
Dia itu ga tau ya kepentingan kita? Masak dana segini aja ga disetujuin? Bisa kerja becus ga sih? Kalo ga mending turun aja. Apa perlu di demo biar turun sekalian? Ini tu juga penting buat kita tapi ga ditanggepin positif. Huh, apa-apaan tuh!!

Saya belum pernah memegang otoritas yang sangat tinggi jadi saya tidak bisa membagikan pengalaman saya, namun yang saya ingin bagikan disini seandainya anda ditunjuk jadi orang yang memegan otoritas tinggi itu, apakah anda yakin dapat melakukan pilihan yang baik untuk semua pihak? Saya belajar satu hal, ketika satu pilihan diambil, maka akan ada hal yang dikorbankan. Intinya tidak semua bisa diuntungkan.

Seorang anak tidak akan mengerti bagaimana sulitnya menjadi seorang ayah sampai ia punya anak dan tahu bagaimana sulitnya mengasuh seorang anak. Mungkin kalimat ini yang perlu kita pahami dan resapi. Bahwa kenapa saat ini kita mengeluh, sebabnya kita terlalu egois untuk coba memandang dari sisi yang lain. Buka pandangan dan galilah, maka kita akan sadari menjadi orang yang kita sindir atau cemooh tidak semudah yang kita bayangkan.

Satu hari saat menyusun rencana studi, beberapa teman komplain pada dosen pembibimbing akademik mengenai jadwal kuliah yang dinilai (saya juga merasa demikian) over load. Saya agak lupa bagaimana dosen saya menjawab pertanyaan dan komentar yang terucap, namun intinya beliau menerangkan mengenai kesetiaan dalam menjalani sesuatu sekalipun apa yang dilakukan bukan keinginan kita.

Dari sini saya ingin membagikan satu hal kecil yang saya harap bisa dimaknai lebih besar, ketika kita mau mencoba, kita akan dapat memahami. Saat mulai paham, kita akan mengulangi. Dari proses berulang kita akan menghafalkan. Saat semuanya sudah ada di kepala kita, segala sesuatu akan terlihat mudah bagi kita, namun demikian hal yang terpenting dari semuanya adalah memulai dengan merendahkan diri, mencoba melangkah tanpa mengeluh terlebih dahulu.

-ketika kita belajar melakukan sesuatu, proses dalamnya adalah hal yang sangat tidak mengenakkan. Namun ketika kita berhasil melewatinya dan lulus, maka semua hal tidak mengenakan itu akan terbayar- sebuah refleksi singkat dari pengalaman bapak Agung Santoso ketika belajar di amerika.

Tidak ada komentar: