Selasa, 10 April 2012

Manusia dan Pilihannya


beberapa hari belakangan saya mulai berpikir, "hey, banyak banget pilihan yang kita ambil dalam hidup!" ya, banyak hal yang harus kita pilih mulai dari pilihan yang sepele sampai pilihan yang riskan. dan akhirnya saya mulai berpikir lagi, apakah opsi yang saya pilih hanya berlalu dengan begitu saja tanpa ada efek pada diri saya? lantas kenapa saya diharuskan memilih kalau tidak ada efek apapun pada apa yang saya pilih?

mungkin sebagian dari kita pernah berpikir, "hari ini gw milih pake baju merah dan ga ada efek apa-apa tuh." atau "biasa aja, gw milih buat tidur malem tapi tetep bangun pagi." intinya apapun pilihan tidak akan berakibat apapun pada hidup. tapi apakah selamanya demikian? saya punya pemikiran yang sedikit berbeda mengenai pilihan. menurut saya, apapun yang kita pilih, sekecil apapun hal yang harus kita tentukan akan berpengaruh pada hidup kita.

tapi kenapa pilihan "kecil" saya seakan ga ada pengaruhnya buat hidup. dengan atau tanpa memilih itu saya biasa aja tuh. ya, mungkin pilihan kecil seperti pake baju apa atau tidur lebih awal atau nggak sekilas ga memberi dampak pada hidup, tapi pernahkah kita coba berpikir seandainya saya menggunakan pakaian B, apakah hasilnya sama dengan pakaian A? seandainya saya menyisir rambut, apakah ada perubahan? (ya, kita ga akan tau jawabannya sampe kita nyoba)

menurut saya (lagi) pasti ada hal yang berbeda ketika kita memilih hal yang berbeda tapi kita sering menyepelekan itu dengan berpikir "ah, toh cuma masalah kecil." atau "ah, ga ada ngaruhnya." hey manusia diberikan tanggung jawab besar ketika ia mau peduli dengan hal-hal sepele. mungkin ini yang harus jadi perenungan kita, kenapa kadang "tanggung jawab" yang bisa kita tanggung diberikan pada orang lain yang menurut kita tidak memiliki kapasitas seperti kita.

ada kemungkinan karena kita cenderung menyepelekan pilihan kecil. padahal orang melihat kita bukan dimulai dari hal muluk-muluk yang bisa kita lakukan, tapi dimulai dari bagaimana kita peduli pada detail, pada apa yang kebanyakan orang anggap sepele. kita harus bealajar untuk memulai untuk bijak dari pilihan kecil sebelum menawarkan diri atas pilihan besar. hey, bagaimana orang mau mempercayakan hal besar kalau untuk hal kecil saja kita tidak mau berusaha lebih bijak.

dan inti dari pembicaraan yang panjang lebar ini adalah cobalah untuk memilih dengan lebih bijaksana, sebab tiap pilihan kita menentukan siapa kita di masa depan. berpikirlah 10x lebih banyak sebelum memutuskan ssuatu (tentu aja kalo pilihannya cuma pake baju merah ato biru ga usah sampe 3 jam). pilihlah dengan hati-hati. siapa tahu pilihan "berbeda" yang kita lakukan hari ini mengantar kita pada "hal baik".

iman bagian II

lagi-lagi aku terinspirasi nulis sesuatu buat di share-kan. terima kasih buat jeff lee yang udah bikin aku terusik buat nulis ini. kok bisa aku?? hehehe, bener jeff, soalnya statusmu bikin aku inget sama salah satu sessi youth camp. mungkin akan sedikit berbeda dengan apa yang dulu pernah dibahas di camp ato akan sangat berbeda dengan maksud jeffrey nulis statusnya, tapi ini yang mau aku bagiin.

kalo kita inget, (kecuali yang ga ikut hehehe) bukan masalah respon dan penggilan, tapi mengenai iman, pembicara saat itu nyuruh kita buat milih, kita tu tipe iman yang kayak apa, telor apa telo? dengan penjelasan lebih baik jika kita memiliki iman seperti telo, kenapa?? sekarang kita ambil telo dan telor dan beri perlakuan yang sama, direbus, maka hasilnya...

jika iman kita seperti telur, awalnya kita lunak dan mudah dibentuk, tapi setelah mendapat cobaan dan ujian pendewasaan iman (direbus) iman kita mengeras. berbeda dengan telo, ketika kita punya iman seperti telo, mungkin awalnya kita keraskan hati kita, tapi setelah di uji dan di dewasakan lewat masalah, kita jadi lunak. (maap kalo ada yang salah hehe)

yang mau aku bagiin kali ini, sebenernya udah lumayan lama mau aku bagiin, tapi kelupaan dan akhirnya di ingetin sama jeffrey lee ( dan terima kasih buat kuliah dari salah satu dosen psikologi). aku dapet satu hal yang menarik, milikilah iman yang seperti kopi. kanapa kopi? kopi di sini bukan biji kopi, tapi kopi bubuk. ambil kopi dan berikan perlakuan sama seperti telo dan telor. hasilnya...

kopi awalnya bubuk, orang yang memiliki iman seperti kopi tidak mengeraskan hatinya, hatinya juga tidak terlalu lunak. ketika masalah dateng, ujian pendewasaan di terima, hasilnya... kita gak akan liat kopi yang mengeras atau melunak. kopi bercampur dengan air mendidih dan memberikan wangi yang enak.

intinya ketika kita menentukan iman percaya kita, jangan hanya punya awal yang baik tapi berakhir mengeras, atau awal yang biasa saja dan berakhir dengan hanya mudah di bentuk, tapi jadilah seperti kopi. awalnya tak pernah keras, mengalami cobaan yang sama, hasilnya, ia tak hanya mudah dibentuk (dijadikan beragam jenis minuman), tapi juga memberi rasa dan aroma pada dunia.

di salah satu KKR, pembicara saat itu berkata ketika kita berbicara di depan orang percaya tentang kebesaran Tuhan, maka hasilnya tidak akan maksimal (inget mereka orang yang juga udah percaya, apapun yang kita omongin tentang Tuhan akan mereka iyakan), tapi pernahkah kita coba bergerak dan berbicara banyak tentang Tuhan kita di hadapan orang yang belum mengaku percaya? bayangkan pendapat mereka, apakah mereka akan sepenuhnya berkata iya??

ingat tugas kita adalah menjadikan seluruh bangsa murid-Nya, dan ingat tuntutan seorang kristiani adalah menjadi garam dan terang dunia. hehe, kayaknya waktu saya nulis ini dan nge-tag ke temen-temen GKI, sama aja aku jilat ludah sendiri, tapi aku rasa hal ini penting buat kita share-kan bersama..

kasih komentar ya, GBU

Bila Yesus Hidup di Indonesia Sekarang

BBM dan isu seputarnya memang begitu luar biasa. Semua kalangan membicarakannya dan saya sekalipun tidak terlalu aktif (karena terbatasnya media) mencoba untuk terus memantau perkembangannya. Beberapa hari yang lalu di sebuah situs pertemanan, saya membaca sebuah note. Ya, teman saya membuat sebuah note yang sangat luar biasa mengenai fakta-fakta seputar kenaikan harga BBM. Saya juga membuatnya (lihat postingan sebelumnya), namun isi note kami sangat bertolak belakang. Saya tidak ingin menyalahkan atau membenarkan, sebab perbedaan ideologi itu baik dan lagi saya juga setuju dengan beberapa bagian note nya. 

Yang membuat hati kecil saya tergekitik bukan note yang dibuat teman saya itu, namun justru komentar salah seorang pembaca note itu. Anda pastu penasaran kan? Kira-kira begini bunyinya "Yesus datang dan melakukan revolusi dengan mematahkan ajaran lama (besar kemungkinan merujuk pada hukum taurat). Seandainya Dia ada di indonesia sekarang, mungkin Dia akan ikut berdemo." saya kurang begitu ingat kalimat terakhirnya, namun kira-kira isi kalimat terakhir dari pernyataannya mencoba mempertanyakan umat (dalam hal ini khususnya mahasiswa) nasrani yang katanya pengikut Yesus, tapi tidak revolusioner (dengan tidak berani ikut demo di jalan). 
Pernyataan ini membuat saya merenung. Pertama, karena saya memberi diri di baptis secara Kristen yang artinya saya mengaku diri sebagai Kristiani. Kedua, saya menjadi tergelitik untuk mencari jawaban mengenai apakah benar demikian yang akan terjadi bila Yesus (atau Nabi Isa Almasih) ada di negara kita saat ini. 
Perenungan saya sampai pada dua kesimpulan. Pertama, saya akhirnya sadar bahwa sekalipun saya mengaku sebagai Kristen, saya masih jauh dari Kristen sejati (masih banyak dosa dan pelanggaran yang saya lakukan, bahkan ketika merampungkan tulisan ini). Kedua saya pikir saya bisa berbagi sesuatu dari komentar mengelitik tadi, apakah bila Yesus benar-benar ada di indonesia yang sudah mulai kacau, Ia akan berdemo? 
Menurut saya jika kita mau menemukan jawabannya kita harus mengenang kembali beberapa peristiwa penting yang tercatat di Alkitab. Pertama saya mau ajak saudara untuk melihat peristiwa penyambutan Yesus di Yerusalem. Ada hal menarik yang harus kita perhatikan. Ia mengendarai keledai dan bukan kuda perang seperti apa yang dibayangkan yudas iskariot yang akhirnya memilih mengkhianati-Nya. menurut saya, (dengan tambahan kutipan dari khotbah seorang pendeta) hal ini menandakan bahwa Ia datang memang untuk mengubah hukum lama (melakukan revolusi), namun yang diubah adalah hukum mata ganti mata jadi tampar kanan beri kiri, dan cara dia mengubah bukan dengan menggulingkan kekuasaan (ingat kutipan ayat, berikan pada kaisar yang menjadi bagiannya dan pada Tuhan yang menjadi bagian-Nya). 
Peristiwa penting ke dua adalah ketika Ia ditangkap sebelum disalibkan. Ingat, saat itu petrus menghunus pedang dan memotong telinga salah seorang prajurit romawi. Apa yang dilakukan Yesus? Ia memerintahkan petrus untuk menyarungkan pedang dan bukan terus melawan dengan jalan kekerasan. selain itu Ia menyembuhkan (baca memperbaiki keadaan) telinga prajurit itu. Dari sini ajaran pentingnya ialah, untuk mengubah keadaan yang buruk tidak harus dengan melakukan tindakan fisik (khususnya anarkis) yang notabene akan memicu munculnya kembali mata ganti mata gigi ganti gigi. bayangkan jika anda mahasiswa melihat teman anda dipukuli, reaksi yang terjadi adalah keinginan membalas dan ketika anda membalas anda akan dibalas begitu seterusnya hingga jadi satu sikluls.
Menurut saya ajaran yang ingin dikenalkan oleh Yesus adalah ajaran yang mau menerima sambil (ini poin pentingnya) melakukan hal sederhana yang dapat merubah keadaan atau dengan kata lain beriman dengan benar. 
Maka sampailah kita pada jawabannya, menurut saya, jika Yesus hidup di indonesia saat ini, Dia tidak akan kita temui di garis depan bersama pendemo-pemdemo anarkis, menurut saya Ia akan melakukan hal yang lebih radikal seperti merubah air jadi pertamax dan membagikannya secara gratis pada seluruh warga, sehingga pemerintah sadar akan kelalaiannya tanpa perlu melakukan aksi anarkis untuk menyadarkan mereka. Yah, saya benar-benar berharap Dia ada disini sekarang untuk menyadarkan mereka. Hahaha. 
Bagaimana menurut anda?