Kamis, 25 Oktober 2012

antara 10% dan BEMU

menghilang agak lama dari dunia bloging, ya memang saya butuh waktu lama untuk rehat, karena disamping ide yang sedang mentok, tugas-tugas kuliah cukup menyita perhatian (maklum makin "tua"). baik, sudahi perbincangan soal kuliah dan tua. saya mau berbagi pengalaman menarik yang baru saya dapat kemarin.

kampus saya sedang melakukan event besar tahunan. apa lagi kalau bukan pemilu presiden dan wakil presiden BEMU, agenda tahunan yang sesuatu banget, alasannya sederhana, dari tahun ke tahun semua terbaca. visi-misi yang mengawang, proker yang njelimet, dan realisasi yang nihil. saya jadi berpikir mungkin ini yang membuat pemimpin kita jadi PHP (pemberi harapan palsu). waktu mahasiswa mereka senang ngobral janji dan susah menepati. ya kalo ga bisa mending ga usah to.

yang saya mau bahas bukan masalah janji-janji yang mereka buat waktu nyalon jadi presiden BEMU, tapi pertanyaan dari rekan mahasiswa mengenai kenaikan uang SKS sebanyak 10% per semester. yap, ini adalah fakta di kampus saya, bahwa tiap semester ada kebijakan uang SKS naik 10% mungkin ini juga terjadi di kampus pembaca? saya tidak tahu namun inilah topik saya kali ini.

pertanyaan dari rekan mahasiswa cukup membuat banyak orang tersadar dan dalam hati akan berkata "iya ya, kemana mereka (BEMU)??" dia mengawali pertanyaannya dari calon presiden dan wakil presiden seharusnya mengerti seluk-beluk BEMU dan embel-embelnya (saya agak lupa persis kalimatnya). intinya BEMU cuma jadi EO (event organizer), bukan badan eksekutif. dia menambahkan daripada repot mengurusi cup dan kegiatan lainnya kenapa tidak berjuang ketika ada kebijakan kenaikan 10% per sks yang diterapkan universitas? intinya dia mempertanyakan kemana BEMU.

saya setuju akan dua hal. pertama bahwa BEMU hanya jadi EO dan (seakan) tidak peduli dengan keadaan mahasiswa yang teriak-teriak karena (seakan) uangnya disedot habis suatu lembaga pendidikan. kedua saya juga setuju bahwa kebijakan kenaikan uang SKS memberatkan. bagi saya yang berasal dari keluarga menengah atas saja itu cukup memberatkan, apalagi yang tidak. tapi jujur saya memiliki pandangan yang berbeda mengenai kebijakan ini.

saya akan mengawalinya dari perkataan salah seorang pembicara saat saya mengikuti inisiasi masuk universitas dulu. dia bilang "selamat datang di dunia pendidikan yang mahal!" ya, pendidikan memang mahal, entah negri atau swasta, pendidikan memang butuh biaya. orang yang berani melangkahkan kaki di gerbang suatu lembaga pendidikan harus mempersiapkan keadaan fisik, psikologis, dan finansial. pendidikan adalah investasi jangka panjang dan yang namanya berinvestasi berarti harus siap dengan resiko yang muncul, termasuk kenaikan harga di tengah jalan.

tapi poinnya bukan itu. saya merasa terbeban ketika harus bilang ke orang tua saya bahwa semester ini saya harus membayarkan uang yang jumlahnya lebih besar karena adanya kenaikan harga SKS, tapi saya rasa kebijakan ini cukup baik. minimal ada dua hal yang bisa saya dapat dari diberlakukannya kebijakan ini.

pertama, kenaikan 10% membuat saya berpikir bahwa jika saya berlama-lama ada di kampus, saya harus membayar lebih mahal. kebijakan ini memaksa saya untuk bekerja lebih giat agar dapat menyelesaikan pendidikan dengan lebih cepat. salah satu alasan yang membuat orang menjadi malas lulus cepat adalah uang SKS yang murah. saya pernah bertanya pada kakak angkatan 2003 berapa uang SKSnya dan angka yang dia sebutkan sangat mengejutkan. uang 1 SKS saya bisa membayar 3 SKSnya. ya, kalau uang SKSnya murah seperti itu, mau lulus 20 tahun lagi saya tidak akan keberatan membayar, toh biaya sangat murah. jika ada orang yang mempermasalahkan biaya pendidikan yang tinggi, berarti  orang itu lupa bahwa ada beasiswa disediakan bagi mahasiswa yang kuat secara akademis namun lemah secara finansial. atau mungkin mereka adalah tipe mahasiswa yang sadar akan lulus lama, dan merasa enggan membayar lebih banyak.

kedua, kenaikan 10% harus dipandang dari kacamata lainnya. bahwa tiap tahun harga kebutuhan naik. tiap tahun tuntutan berkembang. tiap tahun ada perubahan. mungkin inilah yang juga tidak boleh luput dari pandangan kita. uang SKS digunakan untuk biaya opreasional kampus dan juga menafkahi dosen dan karyawan. sejauh universitas yang kita tempati adalah universitas swasta, maka saya rasa wajar biaya yang dikeluarkan jadi lebih banyak. karena mereka melakukan pendanaan sendiri. kalau universitas negri melakukan hal yang sama, demolah ke gedung DPR minta menteri pendidikan dicopot dari jabatannya. yang harus kita kritisi bukan kenaikan harga yang diterapkan, tapi menurut saya out come yang muncul. apakah setelah kenaikan 10% di tiap SKS kita mendapat sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya ; semisal fasilitas yang bertambah atau mungkin metode pengajaran yang lebih baik atau mungkin pelayanan yang lebih memuaskan? sekedar tambahan, banyak orang protes mengenai fasilitas dan pelayanan karena sebenarnya mereka tidak menggunakannya dengan baik. contoh konkrit adalah orang yang ikut kegiatan kemahasiswaan atau perpustakaan padahal itu adalah wadah (fasilitas) yang didanai dengan cukup tinggi. kesempatan bertanya dan berdiskusi di kelas maupun di luar kelas padahal itu adalah pelayanan yang seharusnya bisa kita tuntut. atau jangan-jangan bayangan kita akan fasilitas dan pelayanan tidak seperti yang saya gambarkan? coba sekali lagi renungkan. barulah jika kita merasa tidak ada yang berbeda bahkan segala sesuatunya berjalan lebih buruk dari sebelumnya, protes perlu dilakukan. bahkan jika buktinya kuat saya siap pasang badan untuk ikut berdemo.

intinya simpel, kenaikan 10% sebenarnya adalah hal yang sepele. mungkin yang terjadi kita terlalu sering membesarkan masalah yang sebenarnya jalan keluarnya simpel. daripada memikirkan kenapa uang SKS saya naik, kenapa kita tidak memikirkan bagaimana caranya saya lulus cepat dan tidak membebani orang tua dengan biaya lagi (sukur-sukur bisa ikut membantu yang berkekurangan). banyak jalan yang bisa ditempuh untuk menghadapi masalah, selama kita tidak terlalu fokus pada masalah yang kita hadapi. ada kata bijak, kadang kita tidak melihat pintu kesempatan lain (jalan keluar) terbuka, karena kita terlalu sibuk menatap pintu (masalah) yang sudah tertutup dan terkunci dari dalam.

o ya, ada satu hal lagi BEMU. bagaimana dengan lembaga eksekutif ini? ya jangan terlalu banyak berharap. bahwa salah seorang kandidatnya saja bilang bahwa dia adalah pemimpi. yang kita butuhkan bukan pemimpi, tapi pewujud impian. kenaikan 10% bahkan ketika BEMU turun tangan menyuarakan aspirasi, saya rasa  keadaan tidak akan banyak berubah.

akhir kata, saya mau katakan masalah ada bukan untuk kita hindari atau kita pertanyakan, tapi untuk kita hadapi. kenapa kita tidak mulai mencoba mencari pemecahan masalah daripada sibuk mencari pembenaran diri?

4 komentar:

indahituaku mengatakan...

Halo mas, berhubung kita berasal dari universitas yang sama, saya pernah mendengar percakapan serupa. Sebenarnya BEMU bahkan tidak jadi EO dalam acara di kampus, karena setiap acara seperti Inisiasi dan Festival Kebudayaan punya panitia sendiri. SCnya bahkan bukan orang BEMU. Jadi sempat terdengar isu untuk membubarkan BEMU mengingat lembaga ini tidak punya kegiatan yang berarti setahu saya. Hehe..

Daniel Gatyo mengatakan...

saya pribadi tidak tahu pasti kinerja BEMU. alesannya simpel, pertama BEMU (sekalipun ada anak psikologinya) ga pernah menunjukkan hasil kinerja mereka yang konkrit selain insadha yang bikin rumput rusak (padahal katanya cinta lingkungan) sama BEMU cup. malah terakhir bikin event yang menurut saya kurang matang, duta sadhar. saya rasa kinerja BEMU kemarin jauh dari apa yang saya harapkan. bapak presiden menjanjikan perbaikan relasi, tapi nyatanya tetep aja sama.

sebenarnya jika kemarin (pas ada kampanye di paingan) saya diberi kesempatan untuk bertanya, saya mau memperdalam isu ini. biar ga salah kaprah, tapi ternyata teman-teman dari KPU lebih memberi kesempatan pada rekan mahasiswa dari mrican yang juga hadir dan salah satu rekan mahasiswa yang tiba-tiba dateng daripada mahasiswa paingan yang udah menyempatkan waktunya untuk duduk dari awal.

sebenarnya kenapa isu yang berkembang BEMU cuma jadi EO tu mungkin karena banyak faktor. saya sendiri mencatat ada beberapa agenda penting mendesak yang malah ga dijalankan oleh BEMU selaku badan eksekutif tertinggi.

1. masalah KOK. apapun alesannya kalo niat harusnya KOK udah selesai sejak tahun 2010 awal. tapi kenyataannya sampai sekarang masih jadi tanda tanya.

2. persebaran informasi dan perbaikan relasi. udah jadi rahasia umum kalo psikologi adalah fakultas yang paling apatis dengan BEMU. alesannya simpel, sekarang semua informasi ada di mrican (okelah pusat pemerintahan, tapi sebenernya pemerataan informasi adalah hak tiap anak). relasi yang lebih baik tu cuma ada di mulut waktu kampanye. itu yang saya rasakan.

3. peranan BEMU buat UKM. kalo katanya BEMU pro mahasiswa, berarti pro juga sama kegiatan kemahasiswaan. tapi kemana BEMU waktu natas bersitegang sama universitas atau kemana BEMU waktu universitas lebih memilih bayar mahal radio lain buat woro-woro daripada pake masdha? kenapa ada UKM yang gampang dapet dana dan ada UKM yang ruangan aja ga punya? kemana BEMU? mungkin terlalu sibuk jadi SC kali ya.

4. itu belum diperparah dengan rahasia umum bahwa insadha tu tempatnya cari orderan. itu kenapa saya ogah ikut insadha. haha.

hehe.. tapi balik lagi ini cuma apa yang saya rasakan aja selama lebih kurang 3 tahun ada di universitas ini. ya sayang sekali lagi panitia KPU lebih memilih penanya yang nanyain soal caranya cepet lulus sama apa itu 3C, daripada memilih penanya yang mau meluruskan hal-hal "menyimpang" hehe..

indahituaku mengatakan...

hihi..saya pernah mendengar hal-hal yang masnya sampaikan..
saya pikir ketika menjadi mahasiswa semua keorganisasian itu bakal adil..
tapi ternyata enggak..
yg bisa jadi presiden atau wakil presiden BEMU..atau gubernur/wagub BEF..atau ketua Insadha dan co2nya adalah orang-orang yang punya link-link khusus..memalukan..katanya mahasiswa yang menjunjung demokrasi tapi segalanya penuh nepotisme..
sebenarnya ada banyak mahasiswa yang punya inspirasi untuk disampaikan seperti ini, tapi ketika ada dialog tak pernah disebarluaskan kapan dan di mana secara merata..
oke, saya kuliah di Mrican, tapi seperti mas bilang, Sadhar itu ada 5 kampus, termasuk Paingan, Kotabaru dan Jakal, tapi informasi mengenai ada dialog atau kegiatan apa gitu tidak pernah sampai dengan adil ke semua kampus..
lagipula sepertinya kalo disampaikan di dialog pun, tak kan ada hal berarti yang kan berubah mengingat BEMU berganti orang setiap tahun..
jadi wis males gitu deh, semua insiprasi hanya saling dishare antar simpatisan di angkringan burjonan atau kos2an..berhenti di situ..
aneh ya..padahal mahasiswa dikenal sebagai agen pembaharu, tapi nyatanya kita tidak bisa menjadi pembaharu di kampus sendiri..hehe..
sudah lama tidak ngobrol berat seperti ini mas..hihi..salam kenal ya..saya Indah..PBI'07.. :)

Daniel Gatyo mengatakan...

o iya mba.. saya gatyo psi'09.

mungkin bukan ga mau mba, tapi antara kesempatan yang diberikan kurang atau udah terlalu eneg ngurusi urusan kayak gituan hehe..

kalo ditanya kok cuma mengkritik kenapa ga nyoba nyalon? maka saya pribadi bakal jawab, pertama saya ga punya kenekatan yang cukup besar untuk menjanjikan perubahan (moga-moga aja yang nyalon kali ini ga modal nekat doang) dan saya rasa kalo dari hal kecil aja kita ga bisa bikin perubahan, jangan terlalu ngoyo dengan hal besar. impian semua orang adalah jadi history maker yang ngubah dunia atau penyelamat yang menghapus angkara murka tapi manusia biasa ga bisa langsung ngelakuin hal itu terlalu beresiko salah-salah bikin tambah parah hehehe..

ya, mungkin perubahan itu dimulai dari hal sederhana semisal obrolan di warung kopi? siapa tahu.. haha..

itu mungkin bisa jadi ide bagus mba, masa jabatan presiden diperpanjang sampe 3 tahun misal. jadi orang yang nyalon tu ga cuma karena nekat atau karena hasil setiran. bayangin dong 3 tahun, itu tandanya kalo anak 09 nyalon di 2012 minimal dia baru boleh lulus tahun 2015 setelah purna jabatan. jadi mereka yang nyalon bakal mikir berjuta-juta kali sebelum nyalon. mungkin juga dengan begitu perubahan yang didambakan banyak pihak dapat terwujud. hahahaha..