Jumat, 20 Desember 2013

Tips Pemilu

sekedar tips buat yang mau ikut nyoblos di pemilu 2014. kalau mau memilih, lihat tiga ciri berikut.

pertama liat orang-orang dekat calon. ada calon dari parpol eh anaknya pelaku tindak kriminil, atau adiknya koruptor, atau pasangannya lebih otoriter dari si calon, menurut anda pantes ga dipilih? ada kasus yang lebih sederhana. adik saya punya teman yang orang tuanya caleg. anaknya sekolah ga bener, sering bolos dan ga naek kelas. logikanya kalo ngatur orang deketnya aja ga becus apa lagi orang yang ga dikenal to?

kedua, liat dari pengalaman. ada artis jadi caleg. tahu apa mereka tentang dunia politik? wong rata-rata sekolah aja ga tamat. ada lagi pengusaha mau nyalon jadi presiden. ini apa lagi coba? kalo emang niat terjun ke masyarakat, harusnya bukan lewat media yang dipimpin, tapi dari pengalaman selama ini.

ketiga, lihat dari track recordnya. yah, ada partai isinya koruptor tapi muka tembok, apa pantas untuk dipilih? atau ada calon yang diduga terkait isu ham, apa pantas dicoblos?

akhirnya berdasar tiga ciri diatas inilah tips untuk pemilu 2014. kalau masih belum ada calon yang bisa atur diri dan keluarga, belum punya pengalaman, dan tidak punya track record baik, pilihlah golput! hahahahahaha

Selasa, 10 Desember 2013

Kasih Tanpa Syarat

Kasih itu seperti pedang bermata dua. Ia dapat mendamaikan, namun bisa jadi awal pertikaian. Pernahkah anda melihat orang lain iri pada kawannya karena kawannya menerima sesuatu dari atasan sementara ia tidak? Atau pernahkah anda melihat orang berlaku manis hanya ketika sahabatnya mendapat keuntungan? Itulah awal kehancuran karena kasih. Ya, kasih yang bersyarat. Kasih karena ada niat yang menyelubunginya.

Maka dari itu ketika anda mengasihi seseorang, kasihi dia bukan "karena" tapi "meskipun" karena itulah kasih tanpa syarat. Namun anda juga harus menanamkan dalam diri anda bahwa kasih tanpa syarat bukan hanya perasaan selalu memaklumi dan menerima.

Kasih tanpa syarat bisa jadi sangat lembut namun bisa jadi sangat keras dalam memperlakukan pribadi yang sama. Alasannya sederhana, kasih tanpa syarat beralaskan kejujuran. Ketika orang lain salah, maka ia menegor dengan keras dan mengoreksi. Ketika orang lain benar, ia akan memuji.

Namun apa yang membedakan kasih tanpa syarat dan bukan? Penerimaan. Jika anda merasa tertegor namun tidak merasa ditinggalkan dalam masa sulit anda, orang yang melakukannya mencintai anda tanpa syarat.

Kasih bukan hanya soal ungkapan, kasih tanpa syarat adalah kasih yang berbuat dan menghasilkan. Ketika ada pribadi yang tak pernah mengucapkan rasa sayangnya, namun berbuat lebih untuk anda, itulah kasih tak bersyarat.

Maka orang yang mengasihimu dengan jujur, tulus menerimamu, dan nyata tak sekedar ungkapan, jangan sia-siakan kasihnya. Kau mungkin tak tahu kapan, tapi kau akan dapat merasakan hadirnya.

Senin, 14 Oktober 2013

Karya Tangan Tuhan

cerita ini sudah lama sekali saya baca, jadi banyak bagian yang saya ubah dan tambah sesuai ingatan saya.

Suatu hari ada seorang yang taat beribadah. Karena ketaatannya Tuhan menampakkan diri padanya dan menanyakan keinginannya yang terdalam. Ia merasa ragu untuk mengungkapkan keinginannya, namun pikirnya kapan lagi ia mendapat kesempatan ini. Ia pun memberanikan diri untuk bilang pada Tuhan, kalau-kalau ia boleh merasakan posisi-Nya barang lima menit.

Tanpa diduga Tuhan mengijinkan. Akhirnya si pemuda dijadikan corpus pada salib di gereja. Syarat yang Tuhan berikan hanya satu, agar si pemuda tetap diam apapun yang terjadi. Pemuda itu pun mengiyakan syarat itu.

Tak lama setelah berada di atas, ada seorang pemuda miskin masuk ke gereja dan berlutut di hadapan salib. Ia berdoa dalam hati dengan sangat khusuk. Disampingnya diletakkan tas berisi uang. Dalam doanya si pemuda miskin berkata, "Tuhan, ini adalah harta hamba yang terakir. Hamba akan pergi ke negri sebrang untuk mencari obat yang mampu menyembuhkan sakit keras ibu hamba. Kiranya Engkau memberkati perjalanan hamba."

Selagi pemuda itu melanjutkan doanya, nampaklah seseorang tua renta masuk ke gereja dengan gelisah. Ia melihat sekeliling, kemudian mengambil tas pemuda tadi dan pergi. Seusai berdoa tampak kebingunganlah pemuda itu. Ia menangis seketika itu juga.

Sekalipun teringat syarat dari Tuhan, namun karena belas kasih, turunlah pemuda itu dari salib. Ia menenangkan si miskin dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Si miskin menjadi marah, ia mencari dan memukuli pria tua. Setelah itu memenjarakannya dan memulai perjalanan. Si pemuda merasa puas dengan apa yang ia perbuat. Ia membantu si miskin dan menumpas kejahatan.

Tuhan kemudian hadir menegor si pemuda. Pemuda menyanggah ucapan Tuhan dan menceritakan duduk permasalahan karena menurutnya apa yang dilakukannya adalah kebenaran. Kemudian Tuhan menjawab gerutuan pemuda, kata-Nya "ibu si miskin adalah janda yang sakit-sakitan. Aku membiarkan uang si miskin dicuri karena dalam perjalanan kapal si miskin akan dihantam badai dan ia pun mati disana. Jika tadi kau diam, maka si miskin akan mencoba menemukan obat tanpa perlu jauh dari ibunya. Sekarang ia telah berangkat dan ibunya akan menderita dua kali lebih hebat dari sebelumnya."

Pemuda berkilah, "tapi bapak tadi mencuri, dan itu buruk." Tuhan berkata, "mungkin itu buruk, tapi tahukah kau berapa banyak anak yatim-piatu yang ia asuh menunggu untuk diberi makan? Padahal dengan kekuatan yang terbatas ia tidak sanggup?"

Singkat cerita pemuda itu menyesal dan paham bahwa dalam tiap perkara, Tuhan selalu campur tangan.

Siang tadi saat mendengar khotbah, saya terenyuh pada satu kalimat yang bunyinya kira-kira "karya Tuhan ada dalam tiap perkara yang anda alami" pendeta juga berkata bahwa kita kadang merasa karya Tuhan itu hanya sekedar mukjizat, kesembuhan atau kesuksesan. Kita begitu membatasi karya Tuhan dan menganggap hal seperti bernafas, bertemu teman, makan, dan hal kecil lain bukan karya Tuhan. Bahkan mungkin masalah, kecelakaan, dan hal buruk yang terjadi menjadi cara yang Tuhan pakai untuk berkarya dalam hidup kita.

Saya jadi kembali mengungkit kasus ketika laptop saya dicuri orang. Padahal saya yang berstatus mahasiswa tingkat akhir sangat memerlukannya untuk mengerjakan tugas akhir saya. Saya juga mengungkit kejadian dimana adik saya akirnya harus dipanggil menghadap Dia padahal usianya masih sangat muda.

Saya kadang berpikir jika saja ada sosok seperti pemuda tadi, turun dari salib, kemudian menunjukkan pencuri laptop saya. Atau pemuda itu menunjukkan apa yang akan terjadi pada saudara saya, maka mungkin saya dapat mencegah dan menyelesaikan perkara saya, namun pertanyaannya apakah saya bisa menjamin hal itu adalah yang terbaik? Mengingat dalam cerita si pemuda kemudian mati.

Ya, cerita dan potongan khotbah tadi mau mengajarkan dua hal. Pertama, bahwa karya tangan Tuhan terjadi jauh dari dugaan manusia. Ia dapat mengubah kemalangan menjadi media untuk menunjukkan karya-Nya. Yang kita harus pegang teguh adalah, karya-Nya ada dalam setiap perkara yang kita alami. Kedua, bahwa karya tangan Tuhan bukan hanya mengenai perkara besar. Bukan hanya soal hal luar biasa, tapi bahkan dalam hal paling sederhana dalam hidup kita terdapat karya tangan Tuhan dalamnya.

Senin, 24 Juni 2013

Mengubah Masa Lalu

Tersebutlah seorang pemuda. Ia berada di sebuah pesta pernikahan. Pesta yang dihadirinya kali ini bukanlah pestanya melainkan pesta sahabatnya sedari kecil.

Ia sadar betul jika ia mencintai sahabatnya ini, tapi ia tidak pernah memiliki keberanian untuk mengubgkapkan perasaannya. Ia terlalu angkuh pada dirinya dan ketika ia sadar, ia sudah tidak bisa lagi bersama dengan orang yang disayanginya.

Ia berpikir seandainya saja ia bisa kembali ke masa lalu dan mengubah tiap kejadian buruk antara dirinya dengan sahabatnya, mungkin orang yang akan duduk di sebelah sahabatnya bukan suaminya, tetapi dirinya.

Benar saja, ia mendapat kesempatan untuk kembali ke masa lalu. Ia menggunakan waktunya dengan baik dan mengubah tiap kejadian buruk menjadi baik.

Namun demikian, sebanyak apapun ia mencoba mengubah keadaan buruk di masa lalu, masa depan tidak berubah. Ia tetap tidak bisa bersama dengan sahabatnya yang disayanginya. Ia tetap tidak mampu memunculkan keajaiban.

Ia baru sadar pada akhir perjalanan, bahwa pintu itu akan tetap tertutup. Ia sadar bahwa dia telah melakukan yang terbaik dan dia tidak menyesal lagi. Sekalipun masa kini tidak berubah, ia menerimanya dan berusaha melakukan yang terbaik yang ia bisa.

Ia akhirnya berpikir untuk bangkit dari masa lalu. Ia sadar bahwa melakukan yang terbaik hari ini akan mengubah masa depan

Kira-kira itu adalah ringkasan dorama berjudul Proposal Daikusen. Sedikit banyak hal ini juga terjadi pada kita. Ada kejadian di masa lalu yang sangat kita sesalkan. Kita ingin mengubahnya, namun tidak bisa. Tapi pernahkah kita memikirkan jika seandainya masa lalu kita ubah akankah berpengaruh pada masa depan kita? Bagaimana jia tidak?

Jawaban terbaik adalah belajar dari masa lalu, menerimanya, dan melakukan yang terbaik di masa kini. Mungkin yang kita lakukan di masa sekarang tidak akan mempengaruhi banyak hal di masa depan, namun setidaknya di masa depan kita tidak hidup dalam penyesalan.

Entah itu cinta, karir, pendidikan, atau apapun itu jalani sebaik yang kita bisa.

Sabtu, 08 Juni 2013

Perenungan tentang masa

Waktu berjalan begitu cepat.
Rasanya baru kemarin saya menjadi anak rumahan, hanya tau sekolah dan rumah, hanya bergaul dengan teman di rumah dan sekolah saja.
Rasanya baru kemarin saya menggunakan seragam SMA yang banyak dibanggakan orang, baru kemarin saya memerankan tokoh bawang putih dalam opera perayaan natal di gereja.
Rasanya baru kemarin saya melepas masa jomblo saya, mengenal pacaran, merasakan dunia milik berdua, dan mengalami patah hati.
Waktu memang cepat berlalu, tidak terasa tanggal 9 juni (besok) saya sudah hidup di dunia selama 23 tahun.

Kali ini saya ingin mengajak pembaca untuk merenungkan soal waktu. Mungkin kita mulai dulu dari cerita dosen saya (sedikit saya ubah pak agung, soalnya lupa-lupa inget).

Alkisah ada seorang anak seorang pesilat tangguh. Sang ayah menuasai ilmu tenaga dalam yang hebat. Sang anak bertanya pada ayahnya, "ayah apa rahasia mu sehingga menjadi begitu sakti?" Sang ayah menjawab, "satu-satunya jalan ialah dengan melatih dirimu!" Si anak bertanya lagi, "berapa lama waktu yang saya perlukan untuk menguasai ilmu tenaga dalam seperti ayah?" Sang ayah menjawab, "kurang lebih 10 tahun berlatih sungguh-sungguh dan kau akan menguasainya." Sang anak berlatih, namun ia tidak berlatih sungguh-sungguh. Ia merasa usianya masih sangat muda, sehingga dalam pikirannya ia masih memiliki banyak waktu. 10 tahun akhirnya berlalu karena kurang tekun, si anak tidak menguasai ilmu tenga dalam, sehingga selalu kalah dalam pertarungan. Ia menyesal dan berkata dalam hati, "seandainya 10 tahun lalu aku berlatih dengan sungguh-sungguh, pasti lawanku tidak akan bisa mengalahkanku. Sekarang usiaku tidak semuda dulu. Percuma aku berlatih." Tidak disangka si anak mendapat usia yang panjang, 10 tahun berlalu dan ia masih belum menguasai apapun. Ia pin mengeluhkan hal yang sama. Begitu seterusnya hingga ajalnya ia tidak menguasai satu ilmu pun.
Cerita singkat ini membuat saya merenung, pada usia saya apa yang harusnya sudah saya kuasai tapi belum tercapai karena saya merasa punya waktu panjang. Dan saya akhirnya menemukan begitu banak waktu saya terbuang untuk hal tidak penting. Cerita ini juga mengingatkan kita, tidak ada waktu yang tidak tepat, tiap saat tepat hanya saja kita merasa ini bukan waktunya sehingga cenderung menunda sesuatu yang baik. Coba kita renungkan apa yang sepuluh tahun belakangan sudah kita lakukan.

Kedua saya ingin mengangkat cerita salah seorang teman. Dia anak jurusan PBI.  Dia mengikuti mata kuliah SPD yang terkenal ketat pengajarannya. Saya agak lupa bagaimana kondisi dia saat akhirnya dosen mata kuliah itu mengatakan ungkapan yang sangat bagus, intinya dalam sehari coba kita cek berapa lama waktu yang kita pakai untuk bermalas-malasan, jika waktu yang terbuang itu dijumlahkan, dan kita sedang mengerjakan tugas, maka kita akan menyelesaikan tugas puluhan kali lebih banyak (bener ga vit?). Kata-kata ini diamini oleh raditya dika. dalam salah satu tweetnya iya mengatakan waktu yang dipakai untuk tidak menulis sebenarnya bisa digunakan untuk menulis. Intinya, seberapa banyak waktu kita dipakai untuk hal kurang prouktif? Sudahkah kita menghitungnya?

Ya, dan perenungan tentang usia dan waktu saya akhiri dengan satu peristiwa yang mengubah pola pikir saya. Dulu saya berpikir kita masih muda, tidak ada banyak hal yang bisa kita kerjakan? Waktu kita masih panjang, masih banyak kesempatan. So santai saja. Saya akan share, di usia 19 tahun adik saya meninggal karena tumor ganas yang dideritanya sejak usia 17an. Ya, kematian membatasi kita dan kematian bukan milik orang berumur saja, siapapun, kapanpun, dimanapun dibatasi kematian, lantas masihkah saya dan anda berani bilang waktu masih panjang? Coba kita renungkan jika saya sudah tidak punya waktu lagi apakah saya menyesal dengan apa yang saya capai? Ada satu ungkapan yang sangat baik, berpikirlah seakan hari ini adalah hari terakhir dalam hidupmu, maka kamu akan menghargai hidup dan berusaha sebaik yang kamu bisa.

Jika ada hal yang paling berharga di dunia ini maka waktu jawabannya. Waktu berjalan cepat, tidak dapat diputar kembali, dan kita tidak pernah tau seberapa batasanya, maka sudahkanh kita menggunakan waktu kita?

Selasa, 02 April 2013

Kenapa doa tak selalu terjawab

Saya baru saja kehilangan benda yang cukup berharga (arti sebenarnya) pada hari minggu lalu. Menjadi pergumulan berat bagi saya sebab selain harganya, benda itu sangat-sangat saya butuhkan untuk menunjang aktivitas harian saya sebagai mahasiswa.

Karenanya saya melakukan segala hal yang bisa saya lakukan, mempergumulkan masalah ini dan membawanya dalam doa. Ingat, lakukan bagianmu dan Tuhan akan melakukan bagian-Nya.

Hari ini saya berpikir, apakah doa saya akan dijawab? Bagaimana bila tidak?

Saya bukan ahli teologi, namun kabar baik bagi kita semua yang berdoa pada Tuhan, doa kita pasti dijawab. Namun, ingat jawabannya tidak selalu iya. Mungkin Tuhan akan menjawab doamu dengan tidak atau akan dijawab dengan tunggu. Ya, intinya dijawab to? Masalahnya kita selalu bilang Tuhan tidak menjawab doa saya ketika jawaban yang kita dapat bukan ya.

Kenapa ya Tuhan tidak menjawab semua doa dengan ya? Saya punya beberapa statemen yang mungkin dapat kita renungkan bersama.

Pertama, kita selalu menyamakan doa dengan mekanisme aladin. Ya, aladin hanya tinggal gosok lampu, keluar jin, dan mengucap keinginan. Maka keinginan terwujud. Tuhan bukan jin botol. Ia adalah pribadi yang agung, tapi kita menyamakan diri-Nya seperti jin botol.

Kedua, esensi doa adalah komunikasi. Pada matakuliah psikologi komunikasi, yang dimaksud komunikasi adalah ketika ada pesan yang kemudian ditanggapi. Nah, masalahnya kita selalu ingin mengontrol tanggapan dan mengacuhkan tanggapan yang jauh dari bayangan kita. Bukankah ini naif?

Ketiga, pernahkah kita membayangkan apa yang akan terjadi jika tiap doa dijawab ya? Jika belum coba tonton lagi film bruce almighty. Ketika bruce mengiyakan setiap doa yang masuk yang terjadi adalah chaos.

Ya, seperti ada cerita suatu hari Tuhan mengajak roh seorang pemuda berkeliling. Pertama mereka mengunjungi rumah petani miskin yang hanya memiliki seekor kerbau. Kemudian mereka mengunjungi rumah seorang saudagar kaya yang reot. Tuhan memerintahkan agar kerbau petani itu dibunuh dan rumah saudagar kaya yang reot itu diperbaiki menjadi rumah yang kokoh dan tidak dapat dirusak. Si pemuda bingung kenapa Tuhan begitu tidak adil. Maka setelah lama bergumul ia akhirnya bertanya pada Tuhan alasannya. Tuhan berkata, saat itu malaikat kematian hendak mengambil nyawa petani. Maka sebagai gantinya nyawa kerbaunya lah yang diberikan. Berbeda dengan saudagar kaya. Ia memendam hartanya dibawah lantai rumahnya. Rumah itu dibuat kokoh dan baik agar ia tidak lagi mampu menyembunyikan kekayaannya dan tidak mampu mengambil harta yang dikuburnya.

Inti dari cerita diatas adalah, Tuhan punya rencana dan alasan sendiri dalam menjawab doa kita, jadi kenapa kita memaksakan kehendak? Toh jika keinginanmu sesuai dengan kehendak-Nya doamu akan dijawab dengan ya. Dan satu lagi statemen yang mengelitik, mungkin Tuhan ingin menguji seberapa taat kita setelah mendengar jawaban doa kita.

Jadi teruslah berdoa, sebab pengharapan selalu ada.