Jumat, 21 Februari 2014

Memahami Tuhan

saya memang bukan ahli teologi. saya juga bukan penganut aliran sesat yang tidak jelas juntrungannya. pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi suatu pengalaman pada teman-teman pembaca. pernah suatu kali paman saya menanyakan pertanyaan yang begitu sederhana pada saya, namun untuk menjawabnya dibutuhkan lebih dari sekedar logika. dibutuhkan kepekaan untuk bisa menelaah pertanyaan ini. pertanyaannya adalah 

"jika Tuhan itu maha segalanya, bisakah Tuhan membuat benda yang sangat besar dan berat, yang Ia sendiri tidak dapat mengangkatnya?"

pertanyaan ini kembali muncul ketika saya menonton kembali film Life of Pi. dalam film tersebut, Pi menanyakan pada pengarang buku satu pertanyaan sederhana, diantara dua ceritanya (cerita tanpa macan dan cerita dengan macan) keduanya tidak menjelaskan sebab tenggelamnya kapal, namun cerita mana yang paling disukai. si pengarang menjawab cerita dengan macan di dalamnya. Pi hanya menimpali, begitu pula yang terjadi dengan Tuhan.

bagian film ini begitu ambigu dan sarat akan makna. baiklah, kembali ke topik. kali ini saya tergelitik untuk mendengar jawaban dari beberapa teman saya. maka saya melempar pertanyaan ini di akun media sosial saya, dan luar biasa beragam tanggapan muncul. mulai dari yang langsung menjawab bisa karena Tuhan Maha Kuasa, ada yang menjawab hanya Tuhan yang bisa menjawab, ada yang memberikan ulasan teologis singkat, bahkan ada yang acuh tak acuh.

sebenarnya apa jawaban dari pertanyaan sederhana itu? sebenarnya jawaban apapun yang kita berikan adalah salah. jika anda menjawab Tuhan bisa menciptakan benda itu, maka anda memungkiri ke-Maha-an Tuhan (karena Tuhan ternyata tidak mampu mengangkat benda ciptaannya, maka ia menjadi tidak Maha), pun jika anda menjawab Tuhan mampu menciptakannya namun Tuhan bisa mengangkatnya, berarti Tuhan tidak bisa menciptakan benda yang sangat berat yang Ia sendiri tidak dapat mengangkatnya (status ke-Maha-an Tuhan juga hilang).

lantas apa sebenarnya pesan yang ingin saya sampaikan dari pertanyaan sederhana itu? mungkin benar jawaban teman saya yang mengatakan hanya Tuhan yang dapat menjawab pertanyaan ini. logika manusia tidak cukup dalam untuk mengerti bagaimana Tuhan bekerja. kita terlalu kecil untuk bisa menelaah Dia yang luar biasa besar. sayangnya, kadang kita  terjebak dalam logika kita dan memasukkan konsep Tuhan berdasarkan apa yang kita pikirkan.

mungkin ini yang menyebabkan (di Indonesia khususnya) kita terlalu sering mempermasalahkan agama yang benar dan agama yang salah. mungkin hal ini juga yang menyebabkan kita terjebak dalam sentimen terhadap umat beragama lain dan ingin menang sendiri. mungkin inilah yang menyebabkan kita menjadi terjebak dalam ritual, dan mengesampingkan nilai luhur yang dibawa agama.

intinya, ketika Tuhan begitu besar dan kita begitu kecil (menurut diskusi saya dengan paman saya) kita tidak perlu memusingkan apakah ajaran saya yang paling benar dan ajaran orang lain itu salah. kita tidak perlu terjebak dalam belenggu ritual yang pada akhirnya hanya menjadi candu. Kita cukup mempercayai apa yang kita pandang benar tanpa perlu memusingkan banyak hal. toh otak yang hanya sebesar dua kepal tangan tidak akan cukup menampung seluruh isi jagad raya.

ada ungkapan yang sangat bagus "agamaku untukku agamamu untukmu" pesannya (jika saya tidak salah tafsir) kita tidak perlu terlalu repot menggurui orang lain, cukup menjalankan apa yang kita percayai dengan baik. tidak perlu membela Tuhan, Tuhan itu Maha Perkasa untuk dibela manusia yang hidupnya ditentukan ruang dan waktu. toh katanya setelah mati yang di lihat adalah amal ibadahnya, bukan latar belakang agamanya. dan satu hal lagi "Bukan setiap orang yang memanggil-Ku, 'Tuhan, Tuhan', akan menjadi warga kerajaan Allah. Tetapi yang akan menjadi warga kerajaan Allah adalah setiap orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga (Matius 7:21)"

Tuhan memberkati!!