Senin, 31 Maret 2014

Karma

pernahkah kita mengatakan "lihat saja nanti, biar Tuhan yang membalas." ketika kita mendapat perlakuan tidak adil dari orang lain?

ya, kita dengan budaya ketimuran kita sangat percaya pada karma. entah kita menyebutnya sebagai hukum sebab-akibat atau hukum tabur-tuai (dalam alkitab).

sepanjang yang saya ketahui, ajaran timur menyebutkan bahwa perilaku kita di masa lalu akan berdampak pada masa sekarang, dan yang kita lakukan saat ini akan menentukan masa depan. singkatnya karma itu ada.

masalahnya, umpatan seperti di awal tulisan justru kita ucapkan pada orang yang mencelakai kita. hardikan seperti nanti kena karma, atau dibalas Tuhan, atau titenono, muncul pada saat orang lain berbuat salah, seakan mengingatkan pada mereka bahwa karma itu ada.

pertanyaannya, pernahkah kita merenung terlebih dahulu? jangan-jangan hal buruk yang menimpa kita adalah karma dari perbuatan kita di masa lalu?

tapi orang yang mencelakai saya tidak pernah saya lukai, bahkan tidak saya kenal. lantas bagaimana? analoginya seperti pada tayangan adzan magrib di salah satu stasiun tv. ada orang berbuat baik, kemudian orang yang diberi kebaikan berbuat baik pada orang lain lagi dan begitu seterusnya sampai kebaikan itu kembali pada orang pertama lewat orang lain yang tidak dikenalnya. jika kebaikan bekerja dengan cara ini apakah hal buruk tidak bisa bekerja dengan langkah yang sama?

lantas apa yang harus kita perbuat?

pertama, berhentilah bermain sebagai tuan dari Sang Pencipta. urusan penghakiman adalah urusan Tuhan, tidak perlu kita menyumpah, mengutuk, bahkan mendoakan hal buruk terjadi pada orang lain.

kedua, cobalah untuk mengambil waktu sejenak untuk merefleksikan diri. sebab kadang selumbar di mata saudara kita nampak, namun balok di mata kita tidak nampak.

ketiga, ada ungkapan yang sangat baik. daripada mengutuki kegelapan, lebih baik menyalakan pelita. ya, daripada sibuk mencibir orang lain, bukankah akan jauh lebih baik kita melakukan hal baik seperti memperbaiki diri atau memaafkan mereka?

ada ajaran buddha yang saya yakin perlu diterapkan. jika hadiah yang kau akan berikan ditolak oleh orang yang harusnya menerima, kepada siapakah hadiah itu akan kembali? jawabnya kepada kita. dan begitu pulalah hal buruk yang kita beri pada orang lain.

karma yang baik dimulai dari satu perilaku sederhana, mengasihi. ajaran yang saya anut memberikan garis tegas untuk hal yang satu ini. seperti jika ditampar pipi kanan, berikan juga pipi kiri. jika saudaramu meminta pakaianmu, berikan pula jubahmu. kasihi musuhmu seperti kau mengasihi dirimu. dan itulah yang dicontohkan pada saya.

akhirnya, saya ingin menutup tulisan ini dengan ungkapan,

ketika seseorang berbuat baik padamu, tulislah perbuatan itu dalam loh batu. namun ketika seseorang berbuat jahat padamu, tulislah perbuatan itu diatas pasir.

semoga karmamu menjadi baik, Tuhan memberkati kita semua.

Selasa, 04 Maret 2014

Senyum, Salam, Sapa



sejak saya SD hingga saya SMA, sekalipun saya berpindah sekolah dan kota, slogan 3S pasti saja ada. intinya, siswa dituntut untuk memberikan senyum, menyapa, dan menyalami guru, karyawan, dan orang yang lebih tua. tuntutan sederhana yang sering kali tidak dilakukan, entah karena malas, entah karena tertuntut, entah karena apapun.

hari ini di sela-sela merevisi tugas akhir saya, saya ingin berbagi tentang power of 3S. ya, senyum, salam, dan sapa memiliki kekuatan yang luar biasa. jika anda mau membiasakan diri untuk melakukannya, cepat atau lambat anda akan merasakan khasiatnya.

pertama-tama refleksi. tahukan anda bahwa hal yang kita lakukan pada orang lain akan dipantulkan balik pada kita? anda boleh mencoba hal ini, bahkan pada orang yang belum anda kenal sama sekali. cobalah tersenyum, maka anda akan mendapat balasan senyum. sebenarnya balasan senyum terjadi bukan semata-mata karena orang yang anda senyumi merasa tidak nyaman jika harus membalas senyuman dengan cemberut (misal) tapi karena ternyata secara psikologis kita terdorong untuk mengembalikan apa yang kita terima.

kekuatan kedua adalah adanya efek domino. ketika kita membagikan hal positif, hal positif ini akan diteruskan kepada orang lain, dan suatu saat akan kembali kepada kita. bayangkan jika tiap hari yang anda bagikan pada lingkungan sekitar anda hanya permusuhan, kebencian, kecurigaan, apa yang anda dapatkan? 

yang ketiga adalah kenyamanan. percaya atau tidak secara tidak sadar makhluk hidup akan mencari kenyamanan dan menghindari diri dari bahaya. tahukah anda ketika anda tersenyum, menyalami orang lain, dan tidak segan menyapa orang lain, lama kelamaan akan menumbuhkan rasa nyaman pada orang tersebut. itulah kenapa orang yang ramah biasanya memiliki banyak teman. bukan semata-mata karena keramahannya, tapi karena secara tak sadar manusia mencari kenyamanan.

berikutnya adalah kesehatan fisik dan psikis. tahukah anda bahwa tertawa karena bahagia dapat memperpanjang 15 menit hidup anda? orang yang biasa tersenyum (ingat bukan senyum-senyum sendiri) sebenarnya membiasakan diri untuk lebih memilih hidup tanpa beban. hidup tanpa beban disini bukan berarti lepas dari masalah, tapi membiasakan diri menghadapi masalah dengan sudut pandang yang lebih ceria.

pada akhirnya 3S akan menghantarkan kita pada apa yang disebut koneksi tak terbatas. anda ingin dikenal banyak orang? hanya ada 2 caranya pertama buatlah kekacauan yang sangat luar biasa atau jadilah berprestasi di banyak bidang. jika anda merasa berprestasi itu sulit, dan berbuat jahat itu dosa, maka agar anda dapat dikenal orang banyak, cobalah menerapkan 3S mulai dari sekarang.

bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah, namun akhir-akhir ini sepertinya image itu mulai memudar. jangan-jangan karena kita sudah mulai lupa bagaimana caranya tersenyum, menyapa, dan menyalami orang lain? jika anda merasa sulit melakukannya, maka cobalah dari orang yang paling anda kenal.mulailah tersentym dan biarkan orang lain juga tersenyum